HUTANG KEPADA PERUSAHAAN
Tidak banyak perusahaan yang memberikan pinjaman
kepada karyawannya memang. Namun, hampir bisa dipastikan jika setiap karyawan
mempunyai hutang kepada perusahaan. Oh, ya? Tentu. Karena, hutang itu tidak
terbatas hanya kepada uang. Ada hutang selain uang, lho. Coba renungkan
kembali, bukankah sebagai karyawan Anda berhutang kepada perusahaan? Sudah
menyadari apa hutang Anda kepada perusahaan? Jika belum, silakan merenungkannya
kembali. Sampai Anda temukan jawabannya. Dan ingatlah, bahwa setiap hutang
harus dibayar lunas. Jika tidak, maka hutang itu akan kita bawa pulang, hingga
ke rumah akhirat kelak. Jadi, silakan temukan apa hutang Anda kepada
perusahaan. Lalu kunci jawabannya.
Kebanyakan orang menemukan bahwa
hutangnya kepada perusahaan adalah berupa; jasa baik perusahaan dengan mau
menerimanya menjadi karyawan disana. Hutang budi. Hmmmh… mungkin benar juga.
Bagaimana pun juga, perusahaan telah berjasa memberi kita kesempatan untuk
bekerja. Kesempatan untuk mendayagunakan pengetahuan dan keterampilan yang kita
punya. Juga, tentunya kesempatan untuk mendapatkan nafkah yang berkah. Tapi.
Ada tapinya. Hutang itu tidak mutlak. Buktinya, diantara Anda kemungkinan ada
orang yang tidak merasa itu sebagai hutang. Karena. Anda bisa mendapatkan
pekerjaan lain di perusahaan lain dengan sama mudahnya. Jadi, mengapa harus
merasa berhutang budi?
|
Karena bagi sebagian orang hal itu
tidak termasuk hutang, maka saya sadar jika itu bukanlah hutang yang mutlak.
Tapi, ada lho jenis hutang yang mutlak dimiliki oleh setiap karyawan terhadap
perusahaan. Mutlak? Ya. Mutlak. Artinya, setiap karyawan punya hutang itu.
Tanpa kecuali. Jabatan tertinggi maupun terendah. Orang yang kepengen banget
kerja disitu atau orang yang punya pilihan lain. Pokoknya setiap orang yang
menjadi karyawan, punya hutang itu. Sudah tahukah Anda hutang apa yang saya
maksudkan?
Hutang perjanjian kerja. Itu adalah
kunci jawabannya. Apakah jawaban Anda sesuai dengan kunci jawaban itu? Jika belum,
ingatlah kembali bahwa hubungan kerja kita dengan perusahaan diikat dengan
dokumen bernama perjanjian kerja. Atau surat pengangkatan yang berisi uraian
penugasan dan imbalan yang akan kita terima serta kesediaan kita untuk menerima
kesepakatan itu. Itulah yang kita sebut sebagai perjanjian atau kesepakatan
kerja.
Lah, itu kan bukan hutang? Heeey,
ingatlah kembali definisi awal kita. Bahwa hutang, tidak selalu berupa uang.
Pernahkah Anda mendengar kalimat ini: “Janji Adalah Hutang.” Tentulah ya.
Oleh karenanya, mulai sekarang; kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa
perjanjian kerja kita dengan perusahaan itu merupakan hutang yang mesti kita
tunaikan seluruhnya.
Ketika kita sepakat untuk bekerja di
suatu perusahaan, maka pada saat itu kita berakad untuk menunaikan segala
kewajiban kepada perusahaan. Maka jika. Ini jika lho. Jika dalam keseharian
kerja kita ternyata tidak berperilaku, tidak bertindak, dan tidak melakukan
sesuatu sesuai dengan harapan perusahaan; maka boleh jadi, kita tidak memenuhi
akad atau janji yang kita berikan itu.
Contoh sederhana. Perusahaan menuntut
perilaku positif kita. Namun, jika kita justru malah bikin ulah yang aneh-aneh,
itu artinya janji kita diabaikan. Perusahaan menginginkan kejujuran. Maka jika
kita tidak jujur disana. Artinya kita mencedrai janji. Perusahaan ingin kita
memberikan keuntungan. Tapi jika kita malah meminta vendor memberikan imbalan
dibawah meja atau mark-up dari budget yang dikeluarkan perusahaan, maka itu
artinya kita berperilaku secara bertolak belakang dengan janji yang kita
berikan kepada perusahaan.
|
Ingatkah Anda, bahwa setiap hutang
itu mesti dilunasi didunia? Jika tidak. Di akhirat kita mesti menghadapi
pertanggungjawaban yang berat. Terlebih lagi jika cedranya janji kita itu
dibarengi dengan kecurangan demi memperkaya diri sendiri secara tidak sah
seperti dalam contoh terakhir diatas. Sudah jelas tuch, kelak kita akan
dikenakan pasal berlapis. Pertama karena kita tidak memenuhi janji. Lapis
kedua, karena kita mengambil uang secara bertentangan dengan hukum Tuhan. Ingat
lho, auditor perusahaan bisa saja kelolosan. Tapi auditor di sebelah kiri dan
kanan kita yang patroli selama 24 jam itu kan nggak pernah lengah.
“Nyuri dan korupsi sih emang wajar
dihukum berat. Tapi, kalau soal perjanjian kerja itu, masa sih kok sampai
segitunya?” mungkin Anda punya ganjalan seperti itu didalam hati. Bagus jika
Anda bertanya begitu. Karena, mungkin Anda bersih dari tindakan tidak halal.
Namun, masih merasa ragu jika perjanjian kerja itu mempunyai konsekuensi sampai
sejauh itu.
Saya tidak akan menjawab pertanyaan
dengan dengan berargumen. Karena argument bisa melahirkan perdebatan. Saya
hanya akan mengajak Anda untuk merenungkan firman Tuhan dalam surah 5
(Al-Maidah) ayat 1 yang bunyinya begini:”Wahai orang-orang yang beriman,
penuhilah janji-janjimu…..” Jelas sekali kan? Dalam ayat pertama Allah
sudah mewanti wanti kita supaya memenuhi setiap janji.
Lah, itu mah kan hanya himbauan saja.
Bukan keharusan. Emang bagus sih. Kalau janji, ya ditepati. Tapi nggak segitunya
kaleeee…..
Kalau masih mempunyai pikiran seperti
itu, maka kita pun layak menyimak firman lainnya dalam surah 17 (Al-Isra) ayat
34. Disana Allah menegaskan; “…..Dan penuhilah janji. Karena setiap janji
itu pasti diminta pertanggungjawabannya……”
|
Mulai sekarang, kita lebih
berhati-hati lagi dengan janji terhadap perusahaan tempat kita bekerja. Mari
lakukan itu untuk tiga alas an, yakni :
1.
Harga diri kita kurang lebih terletak pada sikap kita dalam memenuhi
janji.
2.
Pemenuhan yang tulus dan bagus janji kita kepada perusahaan memungkinkan
kita menjadi karyawan yang bernilai tinggi dimata perusahaan.
3.
Dan, memenuhi janji itu adalah perintah dari Tuhan kepada orang yang
beriman seperti kita ini.
Dengan demikian, hanya satu hal yang
kita kerjakan – yaitu memenuhi janji kepada perusahaan – namun banyak hasilnya,
yang bahkan bisa kita rasakan sejak di dunia ini. Dan di akhirat kelak, kita
boleh bilang sama Tuhan; “Lihat aja Tuhan, semua janji sudah saya
tunaikan, kan?” Lalu kita boleh berharap Tuhan menitahkan;”Benar
wahai hambaku. Sesuai dengan catatan malaikat yang senantiasa mendampingimu
disepanjang hidupmu….” Bukankah keramahan sambutan seperti itu yang
kita harapkan ketika bertandang kerumah Tuhan? Insya Allah.
By :
Dadang
Kadarusman