Salah satu teman saya pernah cerita. Bahwa atasannya pernah kerja di
perusahaan swasta terbesar yaitu Astra. Dan yang membuat terkejut teman saya
adalah ucapan atasannya “sekalipun saya sudah tidak lagi di Astra, tapi
jika kulit saya dibelah maka akan keluar darah Astra”.
“Wow, ungkapan yang luar biasa”, itulah kalimat yang pertama kali terucap
oleh saya.
Kenapa bisa begitu? Coba bayangkan, Pegawai Negeri Sipil atau karyawan BUMN
saja yang notabene bekerja mengabdikan dirinya untuk Bangsa dan Negara tidak
pernah berucap seperti itu, justru kata itu terucap oleh mantan karyawan yang
sudah tidak bekerja di perusahaan swasta itu.
Apa yang membuat mantan karyawan itu begitu sangat cinta dan bangganya
dengan perusahaan sebelumnya? Dan bagaimana bisa perusahaan swasta tersebut
membangun nilai-nilai perusahaan hingga bisa terinternalisasi ke pribadi
karyawan?
Membangun perusahaan besar tidak semata-mata dilihat dari laporan keuangan
yang selalu profit setiap tahunnya. Namun, lebih dari itu, apalah gunanya
profit naik secara terus menerus namun perusahaan tidak memiliki karakter atau
jati diri atau makna bagi karyawannya atau tidak sustainable. Perusahaan
yang besar dan sustainable adalah perusahaan yang mampu
membangun brand atau dengan kata lain employer brandingnya
sangat kuat dan memberikan makna bagi karyawannya meskipun sudah keluar dari
perusahaan tersebut.
Coba kita lihat. Beberapa mantan karyawan yang bilang. “Saya bangga
pernah jadi karyawan GE”. “Saya adalah mantan karyawan Astra”. “Saya
bangga pernah kerja di IBM”. “Saya bangga pernah bekerja di
Unilever”.“Saya adalah karyawan Citibank”. Dan seterusnya.
Employer Branding memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dalam
menarik calon karyawan dan mempertahankan karyawan agar
tetap engage di suatu perusahaan. Branding yang dibangun
dan diciptakan oleh perusahaan tidak mesti berbentuk penawaran gaji yang
tinggi. Jika masih berpikir gaji tinggi adalah faktor yang membuat faktor
karyawan tetap engage dan komitmen terhadap perusahaan itu adalah
pemikiran yang keliru. Karena, bisa saja dan sangat memungkinkan sekali
kompetitor bisa menggaji lebih tinggi dari yang kita tawarkan.
Persoalannya bukan di gaji/comben. Tetapi bagaimana employer
branding ini dapat membuat karyawan atau calon karyawan
merasa engage dan bangga bekerja di perusahaan tersebut. Nah, untuk
membangun brand perusahaan ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
Misalnya,
1. Organisasi/perusahaan fokus kepada visi & misinya serta dapat
menjabarkan dengan baik kepada karyawannya,
2. Perusahaan harus dapat memberikan gambaran yang baik kepada calon
karyawan bagaimana sebenarnya budaya organisasi dan manfaat yang akan diterima
oleh calon karyawan serta apa yang dapat diberikan untuk masa depan karyawan
itu sendiri, dan
3. organisasi juga harus bisa memberikan konsistensi
terhadap personality dari brand perusahaan itu sendiri yang
tentunya dipengaruhi oleh pemilik atau pemimpin dari perusahaan serta
memberikan gambaran kepada pihak eksternal value added apa yang
diberikan oleh perusahaan tersebut dibandingkan oleh organisasi lain.
Dengan perusahaan membangun brand maka perusahaan akan
mendapatkan value added, dintaranya:
Interest Value: dengan adanya brand yang baik, maka
ketertarikan calon karyawan terhadap merek perusahaan tersebut akan meningkat
karena rasa puas serta keinginan untuk bekerja di lingkungan yang dipersepsikan
dari brand tersebut.
Social Value: Calon karyawan akan memiliki persepsi bahwa lingkungan
kerja atau teman-teman kerja merupakan tim yang berkualitas serta mempunyai
atmosfir yang baik.
Economic Value: Tentunya muncul ketertarikan terhadap manfaat yang
diperoleh dari sisi pendapatan gaji, banus dan lainnya.
Development
Value: Muncul harapan di perusahaan yang mempunyai brand yang
baik tentunya akan dikenal serta diakui untuk hasil kerjanya serta kesempatan
untuk pengembangan karir.
Applicant Value: Ketertarikan ini dapat diperoleh bagi para calon karyawan
yang ingin belajar ilmu lebih banyak serta mengaplikasikannya untuk mengajari orang lain serta berinteraksi
dengan para pelannggannya.
Tidak cukup membangun merek perusahaan (employer branding) di mata
karyawan maupun calon karyawan, tetapi juga mampu membangun employee value
proposition (EVP). EVP adalah suatu janji yang diberikan kepada para
karyawannya maupun pihak-pihak stakeholder mengenai apa yang akan
diberikan dari merek tersebut. EVP adalah semacam perspektif karyawan di dalam
suatu perusahaan yaitu “Ada manfaat apa untuk diri saya jika bekerja di
perusahaan ini”.
Value proposition ditawarkan dalam berbagai bentuk misalnya dengan
bekerja di perusahaan ini maka karyawan akan memperoleh banyak benefit tidak
hanya secara financial tetapi juga non-finansial. Tidak hanya dari segi
kompensasi & benefit tetapi juga pengembangan diri, pengembangan
professional, kesempatan belajar, kualitas hidup, keseimbangan kehidupan dan
kerja, pengembangan karir, lingkungan kerja yang nyaman dan aman, nilai-nilai
& filosofi kebaikan perusahaan, dan seterusnya.
Mungkin itulah yang dilakukan perusahaan-perusahaan sekaliber GE, IBM,
Unilever, Astra dan Citibank menciptakan, mambangun dan mengembangkan merek
perusahaan (employee branding) dan tidak lupa menawarkan value
proposition yang tidak hanya berorientasi pada gaji, melainkan
berorientasi pada pengembangan-pengembangan non-finansial yang sangat membantu
karyawan dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi dirinya.
Sumber : Group Diskusi HR