Menerapkan
CBHRM sama sekali tidak sama dengan memiliki direktori
kompetensi. Sesungguhnya, ada tujuh tantangan penerapan CBHRM
yang harus kita lalui agar kita bisa mengatakan bahwa sistem manajemen
berdasarkan kompetensi kita benar-benar berjalan dan memberikan hasil.
Dalam pertemuan
dan diskusi dengan para pelaku manajemen SDM, tidak sulit menemukan satu ghirah,
semangat, elan untuk menerapkan majamen SDM berbasis kompetensi. Konsep
manajemen SDM yang biasa disebut competency-based human resources management
(CBHRM) ini sepertinya sudah mendapat tempat di hati hampir semua praktisi
maupun pebisnis Indonesia.
Kesadaran bahwa
kini sudah saatnya meninggalkan pola pikir job description yang berfokus
pada uraian pekerjaan makin disadari banyak pihak. Pola pikir job
description, yang berfokus pada uraian ”apa saja yang harus dikerjakan
karyawan” makin kurang merefleksikan kedinamisan tuntutan bisnis dewasa ini.
Praktek rekrutmen untuk level manajerial, kini, bahkan tak pernah lagi
menerapkan pola job description. Hampir sulit menemukan seorang manajer
yang baru direkrut disodori job description. Pola kerja multi
tasking, menghadapi tuntutan pekerjaan dinamis, di era turbulensi ekonomi
membuat kita tak mungkin lagi mendaftar seluruh pekerjaan yang perlu dilakukan
pemegang jabatan dalam satu waktu. Situasi yang berubah cepat membuat
uraian pekerjaan mudah usang (obsolete). Terkecuali update sering
dilakukan.
Dengan kondisi
seperti ini, sebagai pengganti atas uraian pekerjaan, para profesional HR kini
lebih berpaling pada dokumen yang menggambarkan peran dan tanggung jawab (role
and responsibility). Pendekatan 2R, saya sering menyebutnya begitu,
lebih pas menghadapi era ekonomi baru. Kepada pemegang jabatan kita sodorkan
peran dan tangungjawab dalam pekerjaan. Mengenai apa saja yang patut
dilakukan, kita menyerahkannya pada yang bersangkutan. Kondisi ini membuat,
domain penting yang mengemuka tentunya menjawab pertanyaan ”apakah pemegang
jabatan yang bersangkutan memiliki kompetensi yang dipersyaratkan sehingga ia
bisa memenuhi peran dan tanggungjawabnya?”.
Ada banyak
faktor yang membuat popularitas CBHRM melejit. Dinamika di atas hanya
salah satu diantaranya. Itu pula sebabnya pendekatan kompetensi diadopsi
oleh banyak sekali perusahaan di Indonesia. Meski demikian, keseragaman
nama dalam pembuatan peta kompetensi bukanlah sesuatu yang jamak ditemui.
Perusahaan menggunakan berbagai istilah yang berbeda. SKF Indonesia misalnya,
yang memproduksi bearing untuk pelanggan B2B dalam bidang kendaraan
bermotor, mendefinisikan peta kompetensinya sebagai gabungan dari code
of conduct, business competence, people competence dan professional
competence. CMNP sebagai operator tol swasta pertama Indonesia
mengunakan istilah generic, basic leadership, job/role competence,
dan technical competence. Coca Cola Distribution Indonesia
menggunakan konsep sendiri yang diberi nama leadership practice inventory dan
business management practice inventory berisikan sejumlah kompetensi,
perilaku kunci dan skala. Pendek kata, keseragaman nama adalah hal yang
langka. Tetapi format kerangka kerja secara umum masih sama.
Namun demikian,
saya menemukan beberapa tantangan utama dalam penerapan CBHRM untuk kasus
Indonesia. Saya lebih suka menyebutnya sebagai tantangan penerapan CBHRM,
karena ia bernuansa positif, dan mudah-mudahan menimbulkan motivasi untuk
memecahkan problem implementasi yang timbul.
Sejauh
pengalaman saya berkutat di isu CBHRM, ada tujuh tantangan penerapan CBHRM yang
saya temui di lapangan. Semua tantangan ini adalah isu nyata yang masing-masing
perlu diatasi guna menerapkan CBHRM dengan lebih baik.
Tantangan
pertama, peran manajemen puncak. Ada kasus di mana kita menemui manajemen
puncak yang belum melek pentingnya membudayakan kompetensi. Bila telah
merasa perlu, mungkin juga memandang penerapan CBHRM dari sisi biaya. Bukan
investasi. Berharap mendapatkan quick fixed, manajemen
menginginkan CBHRM segera memberi kontribusi langsung pada pendapatan
perusahaan. Meski Jac Fitz mengajarkan bagaimana mengkalkulasi ROI atas
suatu program pengembangan SDM, kita masih membutuhkan banyak contoh kasus
keberhasilan di perusahaan Indonesia yang dapat dikuantifikasi. Menemukan
manajemen puncak yang melek kompetensi, menggunakan legitimate power-nya
untuk mengucurkan investasi program pembudayaan kompetensi, perlu disyukuri
praktisi SDM. Rasa syukur lalu dapat ditindaklanjuti dengan program
implementasi nyata. Senyatanya, tidak semua praktisi SDM Indonesia
memiliki privilege tersebut.
Tantangan
kedua, peran manajemen SDM. Pemahaman divisi SDM sebagai subject matter
expert atas konsep, metodologi dan dokumentasi CBHRM memegang peran penting
dalam mendefinisikan roadmap perusahaan menerapkan kompetensi.
Tanpa pemahaman yang memadai, aplikasi kompetensi akan berakhir pada metodologi
start from scratch yang dipertanyakan validitasnya. Atau berakhir
pada aplikasi kompetensi yang tidak relevan (not aligned, not locked-in) dengan
operasional sehari-hari perusahaan. Dalam implementasi CBHRM, peran tak
terelakkan divisi SDM adalah menjadi internal consultant bagi semua
kolega di internal perusahaan. Selain masalah skill, yang juga
relevan masalah sikap. Bila SDM memiliki keraguan 10% dalam implementasi
CBHRM, layak bila GM memiliki keraguan 20%, manajer 40%, dan karyawan
80%.
Tantangan
ketiga, strategi implementasi CBHRM. Bila perusahaan telah memulai
inisiatif penerapan kompetensi dan berakhir dengan reluktansi para stakeholder,
itu mungkin isyarat bahwa peta aplikasi CBHRM (application roadmap) tidak
sejalan dengan kebutuhan nyata perusahaan. Selain tentu saja ada
kemungkinan pola pemasaran program SDM yang kurang berhasil. Kekeliruan
aplikasi awal dapat membuat CBHRM dipersepsi sebagai sistem manajemen yang
lepas dari sistem pengawasan dan pengendalian kinerja perusahaan yang sejauh
ini dianggap ”berjalan oke-oke saja”.
Penolakan alamiah timbul akibat
CBHRM menjadi semacam virus asing yang berusaha menempel pada mekanisme operasi
perusahaan yang dianggap telah berjalan baik.
Tantangan
keempat, konsep CBHRM yang tidak mendukung perencanaan strategik perusahaan.
Bagaimanapun, CBHRM bukanlah program yang berdiri sendiri. CBHRM
mendapat tempat ketika ia mendukung pencapaian misi, visi dan strategi
perusahaan. CBHRM menjadi populer ketika para direktur, general
manager dan manajer melihat bahwa CBHRM membantunya mendongkrak kinerja
unit bisnis. Ada situasi di mana persepsi CBHRM yang mulanya positif
menjadi negatif ketika muncul anggapan bahwa CBHRM diterapkan demi kepentingan
administrasi kompetensi itu sendiri. Patron CBHRM adalah manajemen
strategik perusahaan. Menerapkan CBHRM tanpa melakukan analisis strategik
di level korporat sebaiknya tidak dilakukan. Membuat psikogram penuh
dengan bahasa psikologis dengan terminologi reflektif-diagnostik-klinis yang
sulit dimengerti kalangan bisnis, adalah jenis kekeliruan yang sama di masa
lalu. Pembuatan psikogram bukan untuk kepentingan psikogram itu sendiri.
Sama halnya CBHRM not just for the sake of competency profiling.
CBHRM menjadi berarti ketika ia mensubordinasikan diri pada tujuan strategik
perusahaan.
Tantangan
kelima, profil kompetensi CBHRM yang tidak merefleksikan isi pekerjaan di
perusahaan. Salah satu simptom adalah profil kompetensi berisi perilaku
kunci yang kurang mencerminkan kegiatan sehari-hari pemegang jabatan.
Tantangan paling mendasar ialah membuat seluruh perilaku kunci (key
behavior) dapat diterjemahkan ke dalam aktifitas pekerjaan (job
activites) di berbagai fungsi dan level jabatan yang berbeda. Hanya dengan
cara ini maka seluruh perilaku kunci yang bersifat transferable tersebut
menjadi relevan, mudah dipahami, dan muncul dalam perilaku sehari-hari pemegang
jabatan. Membuat seluruh karyawan memahami seluk-beluk kompetensi tidak semudah
menggoreng telur.
Tantangan
keenam, kesenjangan konsep, metodologi dan dokumentasi menuju implementasi.
Negara barat dan perusahaan asing memberikan dorongan pentingnya
implementasi CBHRM dengan amat memadai. Namun dalam beberapa hal, praktisi di
belahan barat dan timur, sama levelnya dalam proses pembelajaran implementasi
CBHRM. Saya menjumpai testimoni bahwa peta kompetensi hasil kiriman holding
company, tidak selamanya dapat segera diterapkan pada affiliated company
di Indonesia. Konsep CBHRM yang datang dari negara maupun perusahaan
asing ketika diterapkan di Indonesia dapat memiliki sejumlah kesenjangan baik
dalam hal konsep, metodologi, maupun dokumentasi.
Tantangan
keenam, peran manajer lini dan pimpinan unit kerja pada umumnya.
Penggunaan terminologi budaya perusahaan untuk kasus Indonesia, sepengamatan
saya seringkali tidak applicable. Ini disebabkan yang berlaku
sebetulnya adalah budaya Divisi. Peran figur pimpinan divisi atau
departemen amat berpengaruh pada budaya suatu unit kerja. Sebagai contoh,
ketika perusahaan mengaplikasikan suatu konsep manajemen, apakah itu Six Sigma,
TQM, ISO, BSC, CRM, SQM, SAP, ABC, KM, atau CBHRM, tidak semua divisi sama cara
pandangnya. Tidak semua departemen sama kecepatan adopsinya.
Tantangan
ketujuh, sikap terhadap inisiatif CBHRM itu sendiri. Amat mudah tergoda
untuk memandang program CBHRM itu sendiri sebagai sebuah project.
Sebuah project memiliki tanggal mulai dan berakhir. Kenyataannya,
CBHRM tidaklah seperti itu. Sebuah perusahaan dapat memulai CBHRM sejak
tahun 1996 dan hingga kini masih berkutat dalam perbaikan berkelanjutan.
Semuanya untuk mendapatkan sistem yang semakin kokoh, buah manis implementasi,
yang memang diperoleh setelah disiplin tahunan. Mendapatkan profil
kompetensi bukanlah akhir CBHRM. Praktisi SDM yang puas setelah
mendefinisikan profil kompetensi sama seperti manajer yang puas memperoleh
hasil asesmen, lalu menyangka karyawan telah berkembang dengan
sendirinya. CBHRM yang sesungguhnya adalah sistem manajemen berbasis
kompetensi yang telah dipraktekkan pada fungsi seleksi dan rekrutmen,
pelatihan, pengembangan karyawan, penilaian kinerja, asesmen, perencanaan karir
dan kompensasi karyawan sekaligus.
Berpikir CBHRM sebagai sebuah proyek
akan menguji ketahanan semangat implementasi pada tahun kedua, ketiga, keempat
dan seterusnya. Tantangan ketujuh ini intinya adalah stamina untuk
menjaga momentum dan kontinuitas transformasi manajemen SDM ke arah CBHRM yang aplicable
di semua fungsi SDM. Kenyataannya sebuah sistem yang berhasil mengatasi
enam tantangan di atas, masih harus mengatasi tantangan ketujuh ini untuk dapat
benar-benar menjadi ikon benchmark keberhasilan implementasi
CBHRM.
Saya
mensistematisasikan tujuh tantangan penerapan CBHRM di atas sebagai sebuah
diskursus. Dibalik tujuh tantangan utama tersebut tersimpan sejumlah
problem yang saling terkait satu sama lain. Apapun adanya, tantangan tersebut
perlu diselesaikan satu-persatu. Agar makin banyak kasus nyata kesuksesan
implementasi CBHRM yang dapat menjadi benchmark di Indonesia.
by : Darmin A Pella