•• Patahkan belenggu HUTANG ••
“Orang yang hidup dengan banyak masalah adalah orang yang
wajar, orang hidup tanpa masalah adalah justru orang yang bermasalah.”
Pernyataan tersebut memang benar, namun tidak sepenuhnya
benar. Karena orang hidup dengan terlalu banyak masalah adalah orang yang patut
dikasihani. Salah satu permasalahan yang sangat dominan dalam hidup ini adalah
masalah keuangan, lebih spesifik lagi adalah masalah hutang. Begitu rumitnya
masalah hutang ini, sehingga sampai mati pun kita akan terus dikejar-kejar
olehnya.
Hidup di dunia modern nyaris berhimpit dengan utang. Bahkan,
untuk sebagian orang, utang menjadi gaya hidup. Orang bisa dikatakan maju jika
mampu berutang. Semakin banyak utang, semakin tinggi status sosialnya. Orang
kian dimanja dengan utang. Sekaligus ditipu dan dijatuhkan dengan utang.
Na’uzdubillah min dzalik!
Seorang mukmin adalah manusia yang tidak tertutup
kemungkinan tergiring dalam pola hidup seperti itu. Bisa banyak sebab yang
menjadikan utang begitu dekat. Bahkan, menjadi incaran. Mungkin, masalah
kemampuan ekonomi sehingga utang menjadi pilihan terakhir.
Masalahnya, mampukah seorang mukmin mengendalikan utang
dalam kematangan dirinya. Utang beredar dalam batasan sarana yang hanya sebagai
salah satu pilihan. Bukan sebagai tujuan. Jika utang menjadi tujuan, ia akan
mengendalikan diri seseorang sehingga terpuruk dalam jurang kehancuran.
Betapa utang punya nilai bahaya yang lebih dahsyat daripada
sebuah senjata yang mematikan. Bisa lebih ganas dari hewan buas mana pun. Di
antara bahaya yang mengiringi belitan utang pada seseorang adalah:
1. Membuat diri menjadi hina
Harga diri seorang mukmin begitu tinggi. Tak seorang pun
yang mampu merendahkannya. Karena, mukmin punya keterikatan dengan Dzat Yang
Maha Tinggi dan Agung. Dan, seorang mukmin yang meninggal dunia demi
mempertahankan kemuliaan itu, ganjarannya adalah surga.
Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada cacat dalam
diri seorang mukmin. Di antara cacat itu adalah ketidakberdayaan membayar
utang. Saat itu juga, terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah.
Bahkan, hina. Bayang-bayang ketidakmampuan itu menjadikan dirinya tak lagi
berdaya di hadapan orang lain. Terutama, orang yang memberi utang. Ia tak lagi
mampu menangkis marah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali pun.
2. Mudah berdusta
Dusta adalah sesuatu yang tak mungkin dilakukan seorang
mukmin. Rasulullah saw mengatakanseorang mukmin mungkin saja bermaksiat. Tapi,
ia tak mungkin berdusta.
Lain halnya ketika utang sudah mengepung. Mau bayar tak ada
uang. Mau menghindar terlanjur janji. Akhirnya, ada satu pilihan aman. Dan
pilihan itu adalah berdusta. “Besok, ya!” Atau, “Oh iya. Saya lupa!” Itulah
ungkapan-ungkapan yang kerap keluar tanpa lagi terkendali. Suatu saat, ucapan
bohong itu menjadi biasa. Dan, orang-orang pun memberikancap pada kita bukan
hanya sebagai pengutang.Melainkan, juga sebagai pembohong. Nau’dzubillah!
Pernah para sahabat bertanya kenapa Rasulullahbegitu banyak
berdoa agar terhindar dari utang. Beliau saw bersabda, “Sesungguhnya jika
seseorang terlilit utang ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu
mengingkari.” (Mutafaq ‘alaih)
3. Memutuskan hubungan silaturahim
Seorang mukmin dengan mukmin lainnya memang seperti satu
tubuh. Satu anggota tubuh sakit, yang lain pun ikut sakit. Tapi, ada satu hal
yang membuat tubuh itu menjadi cerai berai. Tak ada satu hal yang paling rawan
mampu menceraiberaikan keutuhan tubuh itu kecuali masalah uang. Dan di antara
masalah uang itu adalah utang.
Tiba-tiba, seorang saudara menjadi asing dengan saudara
lainnya disebabkan karena utang. Muncullah sesuatu yang sebelumnya tak mungkin
ada. Ada rasa benci, marah, bahkan permusuhan. Terbanglahperasaan simpati,
cinta, dan rindu layaknya seorang mukmin dengan saudara seakidahnya.
Persaudaraan yang begitu sulit dan lama terbina, bisa terhapus hanya dengan
satu masalah: utang.
4. Terjebak tindak kriminal
Pada tingkat tertentu, utang mampu menjerumuskan seorang
mukmin pada tindakan yang sama sekali di luar perkiraannya. Sama sekali tak
pernah tersirat kalau ia akan tega melakukan tindakan yang lebih buruk.
Mungkin, di sinilah setan menuai sukses atas langkah-langkahnya.
Orang yang sudah dikendalikan utang tidak lagi merasa ragu
melakukan tindak kriminal. Di antaranya, penipuan dan pencurian. Bayang-bayang
hitam tentang utangnya menjadikan pandangan nuraninya menjadi keruh. Bahkan,
gelap sama sekali. Tak ada satu tindakan yang lebih mendominasi dirinya kecuali
bayar utang, dengan cara apa pun. Atau, tindakan yang tidak kalah parah: lari
dari utang dengan cara apa pun.
Pada tingkatan ini, seorang mukmin mengalami kemerosotan
kualitas diri yang luar biasa. Kejujurannya hilang, kemuliaannya sebagai mukmin
menguap entah kemana, cahaya imannya pun kian redup. Dan, kenikmatan hidup tak
lagi terasa. Bumi Allah yang begitu luas terasa sempit dan menyesakkan.
5. Meninggalkan beban kepada ahli waris
Alangkah berat duka anggota keluarga yang ditinggal pergi
ayah atau ibu selamanya. Mereka begitu kehilangan seorang yang amat dicintai.
Bahkan, seseorang yang menjadi andalan ekonomi keluarga.
Penderitaan pun kian berat manakala mereka tahu kalau
almarhum mewariskan utang. Bagi mereka, tidak ada tawar menawar, kecuali
membayar utang. Masalahnya, mampukah mereka membayar? Atau, utang menjadi
warisan turunan.
6. Tertunda masuk surga
Ternyata, bahaya utang tidak melulu dalam wilayah dunia. Di
akhirat pun, para pengutang akan mendapat cela yang tidak mengenakkan.
Rasulullahsaw pernah menasihati para sahaba soal ini. Beliau bersabda,
“Demi Tuhan yang jiwaku berada di tanganNya,seandainya
seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi,
kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi sedangkan ada tanggungan utang padanya
maka ia tidak akan masuk surga sampai melunasi utangnya.” (Nasai, Ath-Thabrani,
Al-Hakim)
Tips praktis 8 langkah terbebas dari lilitan hutang:
1. Kalkulasikan Seluruh Hutang. Apakah Anda mengetahui
jumlah total hutang Anda sekarang, berapa tingkat bunganya dan berapa lamawaktu
yang Anda butuhkan untuk melunasinya? Sebagian besar orang tidak tahu.
Kumpulkan semua catatan tagihan bulanan dan buatlah daftar. Dengan begitu, Anda
akan mendapatkan gambaran menyeluruhtentang kewajiban Anda dala membayar
hutang.
2. Rem Nafsu Belanja. Untuk melunasi utang, terlebih dahulu
Anda perlu tahu, kemana saja larinya uang Anda. Evaluasilah money diary Anda.
Mungkin, Anda akan terkejut ketika menyadari bahwa selama ini Anda
membelanjakan uang lebih banyak dari yang Anda bayangkan da untuk hal yang
tidak perlu. Setelah itu, tulis setiap rupiah yang akan Anda belanjakan bulan
depan, sehingga Anda tidak mengulang pola belanja gila-gilaan.
3. Negosiasikan Hutang. Ajukan permohonanpenurunan suku
bunga kredit pinjaman kepada pihak bank. Ceritakan kondisi keuangan Anda yang
sedang sulit. Setiap bank biasanya memiliki beberapa alternatif cara pembayaran
pinjaman, yang bisa Anda pilih sesuai dengan kondisi keuangan Anda. Cermati
pola perubahan tingkat suku bunga. Jangan terjebak pada pola pinjaman yang
awalnya terlihat ‘indah’, namun ternyata bunganya bakal meningkat di
bulan-bulan berikutnya. Jika pihak bank keberatan atas permohonan Anda,
pertimbangkan untuk memindahkan kredit ke bank lain yang memiliki suku bunga
lebih rendah.
4. Membagi Penghasilan Bulanan. 35%: sewa atau cicilan
kredit rumah (termasuk pajak, asuransi dan perawatan); 15%: transportasi
(termasuk bensin, asuransi dan cicilan kredit kendaraan); 10%: tabungan harian;
15%: membayar utang lain (termasuk kartu kredit); 25% : hari depan Anda
(investasi). Namun demikian, formula persentase ini fleksibel diterapkan sesuai
dengan kondisi keuangan masing-masing keluarga.
5. Prioritaskan Pelunasan. Pertama: utang mendesak, yaitu
yang bernilai tinggi, berbunga tinggi dan penting untuk aktivitas sehari-hari,
misalnya cicilan kredit, rumah atau mobil -yang jika tidak dilunasi mungkin
akan disita, sehingga mengganggu produktifitas Anda. Kedua: Hutang yang menyangkutkepentingan
keluarga, misalnya pinjaman untuk sekolah anak -yang jika tidak dibayar,
mungkin akan membuat anak Anda tercoret dari daftar murid. Ketiga: Hutang kartu
kredit. Jika punya lebih dari satu, prioritaskan yang berjumlah dan berbunga
tinggi dulu.
6. Cari Uang Lebih Banyak. Kapan terakhir kali Anda
mengevaluasi pendapatan dari pekerjaan yang sekarang? jika Anda seorang
pengusaha, kapan terakhir kali keuntungan Anda meningkat? Tak ada salahnya
menaikkan harga dagangan hingga 10%. Biasanya, hal ini masih bisa diterima
pelanggan.untuk menambah uang cair, lihat juga barang-barang milik Anda.
Mungkin ada yang berharga untuk dijual. Adakan garage sale di rumah atau
bergabunglah dengan kegiatan serupayang terorganisasi. Kalau sukses, tak
mustahil Anda pulang mengantongi, uang lebih dari sejuta rupiah.
7. Tempuh Pilihan Tersulit. Jika 6 langkah di atas belum
cukup, mungkin sudah waktunya Anda menjual mobil mewah dan menggantinya dengan
yang lebih murah (baik harga maupun biaya operasionalnya). Atau, pindah ke
rumah yang harga belinya atau sewanya lebih murah. Bahkan, apa boleh buat, mungkin
Anda harus memindahkan sekolah anak ke sekolah yang lebih murah.
8. Isi Ulang Kebutuhan. Ketika dana darurat sudah terpenuhi,
Anda harus segera mulai berinvestasi. Jika Anda bisa menyisihkan Rp 10.000,-
per hari dan anggaplah bunga tetap investasi adalah 8% per tahun. Anda akan
punya Rp 57 juta dalam 10 tahun atau 180 juta dalam 20 tahun. Jika investasi
ini tidak Anda utak-atik, dalam 30 tahun Anda sudah mengumpulkan setengah
milyar rupiah. Sudah terbebas hutang, hidup Anda pun makin mapan. Ini rumusnya:
Tahun I: investasi awal + (investasiawal+bunga) = Rp10.000 x 365 hari +
(Rp10.000 x 365 x 8%) = Rp3.942.000, Tahun II: Hasil investasi tahun pertama +
(hasil investasi tahun pertama + Investasi tahun kedua) x bunga) = Rp3.942.000
+ (Rp3.942.000 + (10.000 x 365) x 8%) = Rp 8.199.360.dan seterusnya.
POJOK “PESAN”™ (PEtuah Solusi KeuangAN)
Utang berkepanjangan disebabkan oleh banyak hal dan terjadi
karena tidak ditangani dengan bijak. Sebelum Anda terlilit olehnya, kenali
berbagai tanda-tanda yang mungkin membawa Anda dalam kesulitan.
Mulailah untuk merubah kebiasaan buruk Anda berkenaan dengan
keuangan, khususnya utang. Jalani hidup secara sederhana harus menjadi moto
keluarga.
Sesuaikan pembayaran cicilan dengan penghasilan bersih yang
Anda dapatkan setiap bulannya. Jangan melebihi dari 30% dari penghasilan
bersih. Inilah ukuran umum yang perlu diperhatikan.
Bila Anda terlilit utang berkepanjangan, coba lakukan
langkah-langkah manajemen utang.
Saran kami, utamakan membayar utang dengan bunga yang
tertinggi terlebih dahulu. Bila dirasa kondisi keuangan sangat sulit,
pertimbangkan untuk melikuidasi beberapa aset yang Anda miliki.