Selasa, 05 Agustus 2014

Antara Kompetensi dan Pendidikan : Anak SMK Mendunia !!




DI RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. (M. Salsabyl Adn)
Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional

Laporan M. Salsabyl Ad’n, Salatiga

05 Agustus 2014 05:20 WIB (JAWA POS, 5 AGUSTUS 2014)

SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung. 
Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.
”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).
Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya. Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.
Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.
Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.
”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.
Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung. Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.
Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.
”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.
Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.
Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.
”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”
Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.
Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.
”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.
Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.
”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.
Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK. ”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.
”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.
Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.
”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.
Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin. ”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.
Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.
”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.  (*/c9/ari)



Rabu, 23 Juli 2014

Strategi Rekrutmen Secara Tepat



#Part 1
by : Mochamad Zainuddin
Praktisi SDM


Beberapa bulan terakhir ini tim kami disibukkan oleh aktifitas rekrutment yang cukup melelahkan. Kenapa melelahkan?. Karena untuk mendapatkan calon kandidat karyawan yang sesuai dengan requirement (persyaratan) jabatan belum dapat juga. Sebut saja calon Engineer Manager, atau Marketing Manager. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan, namun hasilnya belum dapat juga. Mulai dari posting iklan di media masa (Koran) atau media online berbayar multinasional yang khusus menjaring kandidat pun sudah dilakukan. Namun, tetap saja belum mendapatkan kandidat yang sesuai. Ada saja faktor penyebabnya, mulai dari persoalan jumlah kandidat yang melamar sedikit. Hal ini mungkin dialami oleh perusahaan yang belum memiliki brand secara multinasional, ataupun bisa dialami juga oleh perusahaan yang sedang berkembang.

Ada juga persolan, pelamar yang sekedar melamar tanpa membaca secara detail requrirement yang dipersyaratkan di iklan yang telah ditayangkan. Dari sini saja, jadi pertanyaan besar bagi kita pengelola SDM, apakah memang sangat sedikit jumlah karyawan yang memiliki potensi di Indonesia? Faktanya banyak juga ditemui orang yang pandai dan memiliki kompetensi yang mumpuni. Dan mereka ternyata telah banyak terserap di perusahaan perusahaan multinasional, BUMN, PMA dan perushaaan besar lainnya. Namun bagi perusahaan yang sedang tumbuh atau bahkan sedang merintis usaha, mencari kandidat dengan kompetensi yang mumpuni akan sangat kesulitan. Akhirnya tuntutan yang harus dilakukan untuk mengembangkan perusahaannya adalah mau tidak mau, suka tidak suka adalah dengan cara melakukan hijacking kepada tenaga professional yang ada di perusahaan besar. Tentunya dengan berani memberikan kompensasi dan fasilitas lebih kepada mereka. Sehingga kecepatan lajut pertumbuhan perusahaan bisa semakin maju. Atau cara yang relatif cukup ampuh namun lama, adalah dengan melakukan kaderisasi karyawan. Hal ini lazim dilakukan dengan cara mencari kandidat fresh graduate atau mereka yang telah berpengalaman maksimal 2 tahun untuk direkrut menjadi kader leader di perusahaan. Biasa disebut dengan program Management Trainee. Parahnya, program tersebut juga dilakukan pula oleh perusahaan perusahaan besar dan memiliki kelas. Tentu saja, secara kompensasi akan lebih menjajikan dibanding dengan perusahaan yang sedang berkembang. Sec ara logika pasar, tentu perusahaan yang sedang berkembang akan mengalami kesulitan dan kalah telak oleh perusahaan perusahaan besar. Ibarat pepatah : Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Rupanya pepatah tersebut layak disandingkan secara kontekstual dalam program perang recruitment oleh perusahaan. Lazimnya dunia bisnis dan kapitalisme, siapa yang memiliki modal besar akan semakin besar peluangnya dan tentunya semakin mudah untuk mencari tenaga muda professional dalam mengembangkan ekspansi bisnisnya.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh perusahaan kecil atau sedang berkembang agar mendapatkan kandidat yang bagus dan potensial untuk mengembangkan bisnis perusahaanya?. Hal ini menjadi PR yang harus dikerjakan oleh Departemen HRD untuk memecahkan problem tersebut.
Kembali ke persoalan rekrutment yang belum mendapatkan kandidat sesuai harapan. Biasanya HRD telah melakukan analisa rekrutment mulai proses pemasangan media iklan lowongan, sampai pada tahap interview akhir. Mari kita simak satu persatu analisanya. Tahap awal biasanya HRD telah memiliki job requirement yang dibutuhkan untuk semua level jabatan. Dan selanjutnya memasang iklan di berbagai media yang ada. Lazimnya dilakukan di media online berbayar (seperti Jobstreet, Jobsdb, Karir.com dll), atau juga dilakukan di media cetak. Bagi Perusahaan yang memiliki dana lebih bahkan bisa menyampaikan informasi lowongan keberbagai media yang. Namun, tentu bagi perusahaan yang berkembang atau bahkan kecil, efektifitas penggunaan media perlu dicermati. Misalnya untuk jabatan sopir, postingan iklanya akan berbeda dengan jabatan staf PPIC atau Manager Tehnik. Untuk mencari kandidat Sopir secara efektifitas akan kurang efektif dan efisien manakala iklan lowongan tersebut disampaikan ke media online berbayar. Karena sebaran populitas mayoritas sopir di Indonesia masih belum melek media online. Berbeda apabila sopir yang dicari dengan kualifikasi pendidikan yang sarjana, atau bahkan sopir yang membutuhkan membutuhkan keahlian khusus karena kendaraan yang akan dikemudikan menggunakan tekhnologi yang super canggih. Untuk itu, sopir akan jauh lebih efektif melakukan pemostingan iklan di media cetak atau di komunitas komunitas pengemudi diwilayah yang mendekati perusahaan. Probabilata yang melamar dan memenuhi kualifikasi akan semakin besar.

Sedangkan untuk jabatan, Manager tentu cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan media cetak atau media online berbayar. Faktor kemampuan telusur dan penggunaan media online sudah menjadi prasyarat mutlak bagi para kandidat untuk melamar pada posisi jabatan yang semakin tinggi tanggung jawabnya. Parahnya, staf recruitment HRD seringkali tidak familiar dengan teknologi. Dan cenderung menyederhanakan proses seleksi melalui media tersebut. Kenapa saya bilang begitu, karena sering terjadi subyektifitas dalam menseleksi kandidat juga cukup tinggi. Contohnya kecenderungan satu alamamater universitas, kecenderungan satu daerah, kecenderungan melihat fisikly. Dan masih banyak lagi. Oleh karenanya, atasan harus benar – benar memonitoring perkembangan recruitment dengan cukup mendetail. Harus dilakukan analisa yang mendalam mengenai kenapa calon yang disampaikan cenderung memiliki pola yang sama. Sudah tidak saatnya faktor subyektifitas terutama fisik menjadi tolah ukur utama dalam proses rekrutment. Memang tidak dapat dipungkiri ada adigium oleh rekan kerja “ Ayu elek podo bayarane, yo meleh sing ayu ae.” (Cantik tidak cantik sama saja bayaranya, maka lebih baik memilih yang cantik).  Sebuah fenomena subyektifitas yang tidak bisa dipungkiri terjadi marak dalam praktek terutama oleh para calon atasan / pimpinan departemen terkait.

Jika kondisi diatas terjadi, lantas apa yang harus dilakukan oleh HRD. Jangan menyerah! Anda bisa melakukan sebuah pembelajaran menarik dengan cara, memberikan dua kandidat yang kecenderungan memiliki potensi yang lebih kepada user. Dari situ, berikan sebuah rekomendasi tertulis atas kelemahan dan kelebih kandidat dan berikan catatan khusus atas rekomendasi tersebut. Sehingga ketika suatu saat ketika ada problem terhadap pilihan kandidat tersebut anda tidak dipersalahkan. Cara yang lain, adalah bisa memesukkan 2 kandidat dengan cara HRD menitipkan, ibarat pembuktian kepada user bahwa pilihanya kurang tepat. Resikonya tentu cost MPP akan berlebih, atau paling tidak jika kebetulan ada departemen lain yang membutuhkan dan kualifikasinya mencukupi, maka bisa dititipkan di departemen lain. Nah, saat melakukan evaluasi percobaan lakukan secara bersama dengan kandidat pertama tadi. Akan terasa bedanya. Cara ini bisa dilakukan, jika HRD bekal dan kepercayaan diri yang kuat akan ketepatan prediksi calon karyawan, jika tidak maka akan jadi boomerang pada departemen anda sendiri.!
Jadi analisa analisa ketepatan strategi pada tiap tahapan rekrutment harus dilakukan, untuk memenuhi kebutuhan SDM secara efektif. Jika tidak maka bisa dipastikan, proses rekrutment yang dilakukan sekedar keberuntungan belaka. Yang saya maksud keberuntungan adalah, jika ada yang melamar dan kandidatnya kebetulan baik, syukur Alhamdulillah. Hal ini seringkali menjadi sindiran bagi owner atau Dirut terhadap kinerja rekrutmen HRD. Apa benar mendapatkan karyawan melalui usaha yang tepat sasaran atau memang kebetulan belaka?. HRD haruslah instropeksi diri.

Tahap selanjutnya ketika strategi pengiklanan telah dilakukan secara tepat, maka untuk menseleksi kandidat berdasarkan curriculum vitae-nya harus dilakukan secara cermat. Sebelum membahas ketahap seleksi kandidat, perlu saya tambahkan untuk strategi rekrutment. Lazim dibedakan menjadi 2 kategori, yakni kategori calon karyawan fresh graduate dan kategori experience. Keduanya dalam hal strategi pengiklanan akan beda titik tembaknya. Ibarat sebuah perang, HRD jangan sampai salah sasaran. Untuk kandidat karyawan fresh graduate pengiklanan biasa dilakukan di kampus dengan metode kampus hearing atau bisa dilakukan dengan mengikuti job fair di kampus-kampus. Biayanya tentu tidak sedikit, dan saingan perusahaan anda juga tidak sedikit. Banyak perusahaan perusahaan besar juga melakukannya. Lantas bagaimana strategi jitunya. Sedikit modifikasi dalam proses rekrutment yang dilakukan akan memberikan peluang besar untuk memenuhi kebutuhan rekrutment di perusahaan saudara. Misalnya anda bisa melakukan on the job training atau penerimaan program pemagangan di perusahaan anda, karena biasanya di perusahaan perusahaan besar program magang kerja jarang diberikan tempat, walau tentu tetap ada program magang. Kerjasama yang apik harus dilakukan oleh perusahaan dengan pihak kampus terutama para dosenya untuk mensupport program rekrutment di perusahaan anda. Jika justru dengan kedekatan personal yang baik, anda akan dimudahkan untuk supply calon tenaga yang baik. Karena tanpa kedekatan tersebut, akan kecil peluang yang anda dapatkan untuk mendapatkan kandidat. Saya sering mengibaratkan dalam tahap ini, Departemen HRD harus memiliki strategi dan berperangai seperti layaknya departemen Marketing. Tentu, dengan produk yang berbeda. Yakni Sumber Daya Manusia sebagai subyeknya.
Kenapa saya bilang sebagai Seperti Departemen Marketing, karena dalam strategi marketing kedekatan personal akan memberikan kontribusi loyalitas pelanggan. Dan pelanggan loyalitas dalam konteks ke HRD an terutama pada proses rekrutment adalah menjalin kedekatan personal oleh pelanggan anda, yakni pada stake holder di perguruan tinggi, sekolah-sekolah dan institusi pendidikan penyuplai tenaga kerja. Banyak faktor kegagalan dialami oleh HRD, dikarenakan personel HRD kurang mampu dalam melakukan pendekatan secara personal kepada stake holder. Maka menjadi syarat mutlak kompetensi seorang rekrutment adalah memiliki kepribadian yang humanis dan komunikatif. Tanpa itu, keberhasilan departemen HRD dalam bidang Rekrutment akan menjadi pepesan kosong, alias mlempem. Dan KPInya akan minim terpenuhinya. 

bersambung......Part# 2

Selasa, 22 Juli 2014

Pesan Spiritual


Bila Kamu masih ingin Rezeki yang lebih besar, cobalah lihat apa yang salah pada dirimu. Perbaiki dan Bertobatlah. Atau perbutan baikumu masih kurang banyak / kurang tulus / salah sasaran....

Catatan Politik Pilpres 2014


Sudah hampir dapat dipastikan, presiden 2014 - 2019 adalah Jokowi. Bukan bermaksud untuk mendahului keputusan KPU tanggal 22 Juli 2014. Namun, melihat fakta real count dari beberapa propinsi di media, sudah dipastikan kubu Jokowi akan menang. Selamat!. Meskipun saya bukan pendukung Jokowi. Namun, sebagai Rakyat Indonesia saya senang, karena akan terpilih presiden masa depan bangsa. Denganya, perubahan akan dimulai, program-program politik semasa kampanye akan segera terealisir, dan semoga menuju kepada tujuan kita bersama sebagai rakyat Indonesia, Masyarakat adil dan Makmur.
Walau perhelatan sudah usai, ada beberapa catatan menarik ketika mengikuti perhelatan pilpres 2014 :
1. Kubu Prabowo dan tim suksesnya harus belajar santun dalam berkampanye, masyarakat rupanya belum siap mendapatkan pemimpin yang sangat tegas dan berani. Mengingat mayoritas rakyat Indonesia lebih memilih pemimpin yang santun (baca: low profile dan tidak menggebu-gebu). Tentunya berbeda dengan negara barat yang senang akan pemimpin dengan ketegasan dan keterbukaan.
2. Partai pendukung Prabowo lebih bisa belajar akan sosilogi politik, dan budaya politik di Indonesia. Dengan pengusung beberapa partai islam, ternyata belum cukup efektif menandingi suara Jokowi. Seringkali justru kampanye yang disampaikan dalam debat pimpinan partai pendukung justru kontraproduktif terhadap ketertarikan pemilih dalam memilih Prabowo. Statement - statement yang dikeluarkan oleh kubu pendukung Prabowo justru seringkali membikin sebagaian besar rakyat Indonesia kurang simpatik. sebut saja beberapa kasus seperti Fahri Hamzah, yang justru menjadi sasaran tembak lawan politik untuk memblow up ketidak tepatan dalam komunikasi. Moment terakhir, dengan pernyataan permintaan penundaan pengumuman real count KPU. justru semakin menegasikan ketidak tepatan dalam membangung komunikasi politik yang santun.  Maka penting untuk menjadi catatan politik tahun tahun mendatang adalah bahwa komunikasi politik yang santun menjadi modal utama dalam keberpihakan pemilih di Indonesia untuk memilih Calon Pemimpinnya.
3. Kompetisi politik sangat terasa saat pilpres diikuti oleh 2 pasangan calon, dan ini menandakan mulai siapnya masyarakat Indonesia dengan sistem kompetisi head to head. Paling tidak momen ini sebagai persiapan masyarakat dalam menghadapi dunia kompetisi ASEAN dan AFTA. Tinggal kita menunggu setelah hasil Pilpres 2014 ini suasana kompetisi bisa mencair dengan cepat atau tidak. ini penting, demi kemajuan dalam pembangunan dan persatuan bangsa. Sudah ada beberapa pihak yang melakukan rekonsiliasi dalam persatuan bangsa. Karena masa pertanding telah usai. Tinggal kita melangkah secara bersama- sama untuk membangun bangsa besar ini.
4. Kebesaran jiwa kedua calon pemimpin bangsa dan para pendukungnya untuk ikhlas kalah menang menjadi syarat mutlak akan kedewasaan dalam berpolitik sekaligus dalam berbangsa dan benegara. Hal ini sudah ditunjukkan oleh para pemimpin kita yang berjiwa kesatria. Seperti, Pak Mahfud misalnya, sudah menunjukkan sikap kestria dengan mengakui kekalahanya tidak bisa memenangkan Prabowo Hatta sebagai Ketua Tim Sukses.
5. Fenomena Quick Count, yang sangat kontradiktif antar lembaga survei, menambah catatan baru pada Pilpres 2014 dalam menyikapi lembaga yang benar-benar kredibel akan kebenaran data tanpa pretensi dan motif apapun. Hal ini sekaligus menjadi bukti kebenaran bahwa ada intervensi politik pada lembaga survei, yang kedepan harus kita benahi bersama dengan mengeluarkan sebuah regulasi yang jelas, sehingga dapat dijadikan acuan dalam membubarkan atau memberikan punishment terhadap lembaga survei yang tidak indepent.
6. Media TV yang seharusnya menjadi penyeimbang informasi, justru pada Pilpres 2014 saling serang dan pro satu sama lain. Bahkan sempat terucap oleh rekan saya di PPS ” Jokowi Presiden Indonesia dan Prabowo Presiden TV.. Cukup Ironis.Kedepan tentu hal ini harus diantisipasi dengan sebuah regulasi yang jelas oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Demikianlah catatan politik akan Pilpres 2014 ini semoga, dapat menjadikan pelajaran bagi kita semua terutama bagi para politisi dan para pendukung. wabilkhusus kepada kita semua rakyat Indonesia. Terpenting, bagi kita semua adalah kesadaran dan kedewasaan terhadap perbedaan pendapat di dunia demokrasi semakin mematangkan bangsa Indonesia.

Majulah Indonesia, Bravo Indonesia Jaya !!
Salam Perubahan dan Persatuan !!

by : Mochamad Zainuddin
Dipublikasikan di Kompasiana.com

Kisah Inspiratif



"Kisah Seorang Pemuda Di Gerbong Kereta"

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya. Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya:
”Ayah, coba lihat, pohon-pohon itu … mereka berjalan menyusul kita”.
Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagian mendengar celoteh putranya itu.
Di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu, tidak lama pemuda itu kembali berteriak:
“Ayah, lihat itu, itu awan kan …? lihat … mereka ikut berjalan bersama kita juga …”.
Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.
Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu:
“Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”
Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab:
“Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir. Tadi ia baru dioperasi, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”.
Pasangan suami itu pun terdiam seribu bahasa.
# Apakah saat membaca kisah ini kita juga berpikiran seperti suami istri ini?
#Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan apa yang anda spontanitas lihat dan dengar saja. Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya anda akan tercengang. Maka kita PERLU BERPIKIR SEBELUM BERKATA DAN BERTINDAK.

• Pada suatu hari, Umar bin Khatab bertanya kepada gurunya: "Apakah cinta sejati itu?" Sang guru menjawab : "Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas, petiklah satu bunga yang terindah menurutmu & jangan pernah berbalik kebelakang." Kemudian Umar melaksanakannya & kembali lagi dengan tangan hampa. Gurunya bertanya, "Lho, mana bunganya?" tanya Sang guru. Umar menjawab, "Aku tak bisa mendapatkannya guru, sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku berpikir lagi pasti ada yang lebih bagus didepan sana, dan ketika aku telah sampai diujung taman. Aku tersadar bahwa yang aku temui di awal tadi itulah yang terbaik! Tetapi aku tidak boleh menoleh kebelakang kembali, bukan? Sang guru berkata, "Seperti itulah CINTA, semakin kita mencari yang terbaik, maka tidak akan pernah sekalipun kita menemukannya. Maka jangan pernah sia-siakan cinta yang pernah tumbuh di hati kita, karena waktu takkan pernah kembali".

#disarikan dari berabagi sumber.

Senin, 21 Juli 2014



5). Bagaimana memecahkan sengketa dengan karyawan dan serikat karyawan?

Dengan Arbitrase:
Penyelesaian menggunakan cara arbitrase hampir mirip dengan pengadilan, tetapi perbedaannya adalah dalam arbitrase hukum acaranya dapat ditentukan oleh para pihak. Sistem ini juga memungkinkan untuk melakukan penyelesaian secara rahasia sehingga tidak mengganggu kegiatan usaha.
Penyelesaian melalui arbitrase lazimnya telah ditentukan dalam sebuah perjanjian untuk mengantisipasi jika terjadi sengketa. Jika belum ada klausul tersebut, pada saat terjadi sengketa apabila para pihak menginginkan untuk menyelesaikan melalui arbitrase, maka para pihak wajib membuat akta kesepakatan. Di Indonesia, umumnya arbitrase diselesaikan oleh lembaga arbitrase yang permanen seperti BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia), tetapi bisa juga yang bersifat ad hoc (sementara).
Para arbiter dapat ditunjuk oleh masing-masing pihak dan lazimnya berbentuk majelis (ganjil), tetapi dapat juga tunggal. Apabila gagal menentukan pemelihian arbiter maka berdasarkan UU No. 30 tahun 1999, para pihak dapat meminta ketua pengadilan negeri untuk memilih arbiter atau majelis arbiter. Perlu diingat bahwa putusan arbitrase wajib diputus oleh majelis arbitrase atau arbiter tunggal paling lama 30 hari setelah selesai dilakukan pemeriksaan. Putusan arbitrase bersifat final dan mengikat para pihak.
Pada kenyataannya, banyak kendala dalam hal pilihan hukum menggunakan arbitrase. Para pihak tidak sedikit yang merasa terbebani dengan kemampuan membayar biaya administrasi penyelesaian perkara ke badan arbitrase. Di BANI, besarnya biaya administrasi perkara dihitung dari nilai kontrak. Untuk nilai kontrak sampai dengan Rp 500 juta dibebani biaya sebesar 10%. Untuk nilai kontrak sampai dengan satu miliar diwajibkan menyetor uang ke administrasi sebesar 8%, sedangkan untuk nilai kontrak yang sampai dengan 2,5 miliar uang yang harus disetor sebanyak 7%. Untuk nilai kontrak sampai dengan Rp 30 miliar dibebani biaya sebesar 2%. Biasanya, para pihak yang berperkara sudah dalam kondisi kehabisan biaya, sehingga dalam beberapa kondisi, pilihan melalui arbitrase menjadi tidak efektif.


6). Bagaimana memecahkan sengketa dengan pemerintah RI?

Melalui Arbitrase Asing :
Mekanisme ini lazim dilakukan apabila salah satu pihak merupakan perusahaan asing atau telah ditentukan sebelumnya dalam sebuah perjanjian. Perlu memperhatikan beberapa hal sebelum menentukan penyelesaian sengketa melalui arbitrase asing.
1. Hukum acara dalam arbitrase asing juga merupakan kesepakatan para pihak untuk menentukannya. Namun, biasanya lembaga arbitrase asing telah memiliki hukum acaranya sendiri. Misalnya ICSID ( International Center for Settlement Investment Dispute ).
2. Putusan dalam arbitrase asing bersifat final dan mengikat.
3. Putusan arbitrase asing diakui oleh Indonesia karena meratifikasi konvensi New York tahun 1958 melalui Keputusan Presiden No.34 tahun 1981
4. Menurut UU No. 30 tahun 1999, putusan dari arbitrase asing dapat dibatalkan apabila memenuhi tiga unsur
a. Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan, palsu atau dinyatakan palsu
b. Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan.
c. Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.
5. Permohonan pembatalah putusan arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada panitera Pengadilan Negeri