Rabu, 27 Maret 2013


Sebaik-baik Karyawan itu....??
 
Di kantor Anda suka ada penobatan ‘employee of the year’, of the month, atau of the week? Atau semacam itulah kira-kira ya? Mungkin juga kantor Anda tidak biasa memberikan penghargaan seperti itu ya? Tetapi, saya yakin Anda pernah mendengar istilah-istilah itu, untuk menyebut seseorang sebagai ‘karyawan teladan’. Menurut pendapat Anda, apakah seseorang yang diumumkan menjadi karyawan terbaik itu memang benar-benar yang terbaik atau tidak? Mestinya memang begitu kan. Tetapi, boleh jadi; ada karyawan lain yang benar-benar yang terbaik. Sekalipun tidak pernah mendapat gelar sebagai ‘yang terbaik’ di perusahaan.
 
Dalam sebuah pertemuan tahunan suatu perusahaan, beberapa orang naik ke panggung untuk mendapatkan penghargaan dan bonus-bonus khusus atas prestasi dan pencapaiannya. Yang naik ke panggung semua senang. Namun orang-orang yang tetap duduk di kursi tidak semuanya senang. Ada saja yang berbisik; ‘orang kayak gitu kok disebut karyawan teladan…’ ada juga yang bilang begini;”halah, gue tahulah cara kerja dia yang sebenarnya…” Atau kalimat-kalimat bernada miring lainnya.
 
Itu menunjukkan bahwa penilaian tentang keteladanan dan kebaikan seseorang itu sering bersifat nisbi. Seseorang yang dianggap baik oleh seseorang, mungkin dianggap buruk oleh orang lainnya. Tetapi ada juga orang yang dianggap baik tanpa di pertanyakan oleh siapapun. Tentu, itu adalah orang yang memang bisa berbuat baik dalam segala situasi. Bisa kita sebut sebagai ‘sebaik-baiknya karyawan’. Apa sih kriteria sebaik-baik karyawan itu?
 
Kemarin sore di after office hour, saya mengirim pesan broadcast kepada teman-teman yang terhubung dengan BB saya. Begini bunyi pesan itu:
 
Bekerja itu, jelas untuk mendapatkan nafkah bagi keluarga kita. Tapi bekerja juga bisa memberikan hasil yang lebih dari sekedar perolehan nafkah itu; jika selama bekerja, kita bisa memberi manfaat kepada orang lain.
 
Sahabatku, manfaat apakah yang Anda berikan bagi orang lain ketika Anda bekerja seharian tadi?  Jika belum, mari kita lakukan besok pagi ya…. Insya Allah kita bisa meraih lebih dari sekedar rupiah….
 
Besok paginya kemarin itu kan pagi ini ya? Maka pagi ini saya ingin berpesan kepada semua sahabat saya di BB dan dimana saja, agar meniatkan pergi bekerja itu untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain melalui pekerjaan yang kita lakukan bagi mereka. Sebab kriteria utama karyawan yang sebaik-baiknya itu sungguh sangat sederhana. Yaitu; menjadi karyawan yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Ya sesederhana itu. Kriteria itu sejalan dengan nasihat berusia 1500 tahun dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda; “Sebaik-baik manusia adalah, yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.
 
Maka sahabatku, bekerja itu bukanlah semata-mata mencari uang. Kita butuh uang, tentu saja. Namun lebih dari itu, bekerja adalah untuk menjadi insan yang terbaik; melalui pekerjaan kita. Dengan cara mendedikasikan seluruh tindakan kita selama bekerja itu, untuk kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Dengan cara itu, kita bisa menjadi karyawan terbaik yang sesungguhnya. Jika kita dipanggil keatas panggung, maka tak seorang pun mempertanyakan; kenapa kita dinobatkan sebagai karyawan terbaik. Jika pun tidak berkesempatan naik ke panggung elit itu, tenang saja. Karena kita tetap menjadi karyawan terbaik dimata semua orang yang pernah kita layani dengan baik. Dan terutama, kita menjadi pribadi terbaik; dihadapan Tuhan Yang Maha Baik
 
Disadur dari tulisan

Dadang Kadarusman
 
Catatan Kaki:
Bukan jabatan atau angka-angka yang menjadikan kita karyawan terbaik. Melainkan manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain melalui pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.
Seputar Coaching dan Couseling
Coaching (membina) adalah proses mengarahkan yang dilakukan oleh seorang manajer untuk melatih dan memberikan orientasi kepada seorang karyawan tentang realitas di tempat kerja dan membantunya mengatasi hambatan dalam mencapai prestasi yang optimum.
Counseling (membimbing) adalah proses pemberian dukungan oleh manajer untuk membantu seorang karyawan mengatasi masalah pribadi di tempat kerja atau masalah yang muncul akibat perubahan organisasi yang berdampak pada prestasi kerja.
Membina dan membimbing merupakan kumpulan dari berbagai keterampilan seperti keterampilan mendengarkan, menunjukkan empati, bertanya, memberikan informasi, dan menyusun rencana kerja.
 
MEMBINA
Mengapa Anda harus meningkatkan keterampilan membina ? Evaluasilah kemampuan Anda dengan mengisi kuesioner di bawah ini : (Isilah Benar atau Salah)
  1. Membuat pekerjaan Anda menjadi lebih mudah karena karyawan bisa memiliki keterampilan sesuai dengan tuntutan pekerjaan
  2. Memungkinkan Anda mendelegasikan tanggung jawab dan mendayagunakan karyawan. 
  3. Meningkatkan reputasi Anda reputasi Anda sebagai atasan/manajer yang berhasil mengembangkan bawahan dan mampu mendorong karyawan mencapai hasil yang sesuai dengan harapan. 
  4. Meningkatkan komitmen karyawan untuk berhasil karena mereka memahami prestasi yang diharapkan dan cara mencapainya. 
  5. Membangun kolaborasi di antara sesama karyawan dalam satu tim karena mereka juga harus membantu. 
  6. Meningkatkan motivasi dan inisiatif karyawan karena adanya pengakuan dan umpan balik yang baik. 
  7. Membantu meningkatkan kualitas kerja karyawan 
  8. Menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan pada saat proses penilaian prestasi kerja. 
  9. Membantu meningkatkan kreativitas dan inovasi 
  10. Meningkatkan kekompakkan tim terutama dalam kesamaan persepsi mengenai sasaran dan peran setiap anggota.
Apakah Anda termasuk orang yang menghindari kegiatan membina ? Berikut ini adalah 20 alasan yang biasanya menjadi penyebab pada manajer / atasan menghindari kegiatan membina. Berilah tanda (V) pada pernyataan yang bisanya timbul pada diri Anda :
Saya menghindari kegiatan membina karena .........................
1. Saya tidak memiliki waktu
2. Saya tidak tahu cara menyampaikan umpan balik
3. Saya tidak ingin membuat karyawan baru menjadi takut atau bingung
4. Kegiatan membina membuat saya menjadi canggung
5. saya tidak pernah dibina, jadi saya tidak tahu bagaimana cara membina
6. Saya terlalu banyak memiliki bawahan
7. Saya tidak tahu sasaran membina karyawan
8. Karyawan tidak suka diberi umpan balik
9. Karyawan seharusnya bisa mengatasi masalahnya sendiri
10.Karyawan bisa memikirkan sendiri kesalahannya
11.Karyawan tidak minta bantuan
12.Kinerja karyawan "hampir" selalu bisa diterima
13.Saya merasa terganggu oleh reaksi karyawan
14.Karyawan sudah termotivasi dan tidak memerlukan umpan balik
15.Karyawan selalu membela diri
16.Karyawan akan menghabiskan banyak waktu
17.Saya selalu tidak pasti bila ditanya tentang contoh spesifik kinerja yang diharapkan
18.Harapan saya sangat jelas; karyawan tahu apa yang harus dilakukan
19.Tidak ada yang membina saya tetapi saya bisa melakukan pekerjaan saya dengan belajar sendiri
20.Saya tidak perduli pada pengembangan karyawan
 
MEMBIMBING
Mengapa Anda harus meningkatkan kemampuan membimbing ? Evaluasi dan Bacalah setiap pernyataan di bawah ini. Berilah
tanda (V) pada pernyataan benar atau salah di bawah ini.
Membimbing .......
  1. Dapat meningkatkan produktivitas sebab kegiatan ini mendorong terjadinya komunikasi terbuka 
  2. Mampu mempertahankan karyawan karena kegiatan ini membuat karyawan merasa diperhatikan dan masalah yang timbul akan teratasi dengan baik. 
  3. Mampu memberikan pertanda kepada Anda tentang masalah atau penolakan yang terjadi sehubungan dengan perubahan organisasi 
  4. Dapat mengurangi terjadinya konflik dan mendorong kerjasama tim 
  5. Dapat meningkatkan efisiensi usaha karena Anda mengetahui motif dan kebutuhan setiap karyawan serta dampaknya terhadap kepentingan organisasi 
  6. Dapat membantu Anda menantisipasi dan mencegah timbulnya masalah 
  7. Dapat memantapkan kemampuan Anda dalam mengambil keputusan karena dilandasi dengan pertimbangan terhadap ide setiap orang serta kelemahan dan kelebihan setiap karyawan. 
  8. Meningkatkan kesempatan berkarir karena Anda dikenal sebagai seorang manajer yang mampu yang mampu memberikan motivasi kepada karyawan serta mampu membangun kerjasama yang baik dengan atasan maupun rekan sekerja 
  9. Meningkatkan rasa percaya diri dan kepuasan kerja 
  10. Meningkatkan kepedulian terhadap orang lain bila Anda berupaya untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan memahami mereka.
Mengapa para manajer / atasan menghindari kegiatan membimbing ? Pernyataan-pernyataan di bawah ini sering menjadi alasan mengapa para manajer / atasan mengindari kegiatan membimbing, silakan evaluasi diri Anda :
Saya menghindari kegiatan membimbing karena .............................
1. Saya tidak memiliki waktu
2. Rasanya saya tidak melakukannya dan memang bukan pekerjaan utama saya
3. Membimbing adalah pekerjaan psikolog dan ahli jiwa
4. Saya khawatir terjadi konflik
5. Karyawan tidak suka mendengar nasihat
6. Saya merasa tidak perlu khawatir dengan dampak perubahan organisasi, saya hanya menginginkan karyawan para karyawan bekerja dengan baik
7. Saya tidak perduli
8. Saya takut menyampaikan hal-hal yang saya rasakan
9. Saya khawatir memberikan saran yang salah dan kemudian disalahkan
10. Karir karyawan adalah urusan pribadinya
11. Takut menghadapi rasa frustasi, keluhan, dan ketidakpuasan , serta tidak bisa mengatasinya
12. Saya sendiri sudah menghadapi banyak masalah sehingga saya tidak mau menambahnya lagi dengan harus bertanggung jawab membantu karyawan mengatasi masalahnya.
13. Kurang percaya diri dan kurang memahami pekerjaan
14. Khawatir karyawan menjadi tergantung kepada saya
15. Seiring dengan berjalannya masalah kinerja akan bisa teratasi sendiri
16. Saya sendiri tidak tahu cara mencapai sasaran maupun kepastian karir saya. Jadi, biarkan saja mereka mencari sendiri jalan keluarnya sendiri
17. Saya tidak bisa mengendalikan diri bila melihat karyawan sedih atau marah
18. Saya tidak mempunyai cara memecahkan masalah yang terjadi
19. Saya akan terbawa perasaan karyawan dan situasi yang terjadi serta tidak bisa bersikap obyektif
20. Saya tidak percaya kepada karyawan
Silakan evaluasi dan isi pernyataan2 diatas, mohon untuk tidak mereply jawaban di milis - karena saya hanya sekedar share saja. Saya kutif dari Buku Couching and Counseling karangan "Marianne Minor. (by Mohamad Yunus)
Be Positive and Be Grateful ! 

Mohamad "Bear
Yunus
“Pikiran dan Tubuh adalah SATU"
Seputar Tentang Talent Management

Talent management atau manajemen bakat adalah suatu proses manajemen SDM yang terkait tiga proses, yaitu :
  1. Mengembangkan dan memperkuat karyawan baru pada proses pertama kali masuk perusahaan (onboarding).
  2. Memelihara dan mengembangkan pegawai yang sudah ada di perusahaan.
  3. Menarik sebanyak mungkin pegawai yang memiliki kompetensi, komitmen dan karakter bekerja pada perusahaan.

Talent management pertama kali diperkenalkan oleh McKinsey & Company following melalui salah satu studi yang dilakukannya tahun 1997. Pada tahun berikutnya, talent management kemudian menjadi salah satu judul buku yang ditulis bersama oleh Ed Michaels, Helen Handfield-Jones, dan Beth Axelrod.
Era globalisasi telah membawa perubahan drastis dalam menjalankan bisnis dan mengelola organisasi. Arus informasi dan perubahan yang cepat dan terus menerus, menuntut adaptasi dari perusahaan.

Proses pencarian talenta baru saat ini masih belum mencapai hasil yang maksimal. Mutu dari SDM yang baru direkrut seringkali masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan perusahaan, sehingga perusahaan harus menambah waktu dan tenaga untuk memperbaiki kinerja dari talenta baru tersebut.
Talenta dan profesional di perusahaan adalah penggerak utama keberhasilan perusahaan.

Sudut pandang lain mengatakan talent adalah orang - orang yang mempunyai kualitas terbaik yang dibangun, dibina oleh sebuah perusahaan guna proses jangka panjang. Merekalah yang akan menjadi penerus bisnis perusahaan kelak.

Mungkin kita tahu biasanya dalam sebuah proses rekrutmen ada lowongan manajemen trainee (MT). Nah inilah salah satu cara perusahaan untuk merekrut para talent-talent tersebut, selain membajak talent perusahaan lain. Mereka akan dibina oleh perusahaan agar dapat menjadi generasi penerus perusahaan.
Oleh karena itu proses pembentukan talent-talent membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

"Change or Die" adalah istilah yang seringkali dipakai untuk menunjukkan bahwa perubahan tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi, perusahaan seringkali menghadapi hambatan dalam melakukan perubahan. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan pihak ketiga untuk memberikan pandangan baru, dan sekaligus menjadi katalis dalam proses perubahan.

Perusahaan-perusahaan yang menggunakan talent management sebagai salah satu strategi pengelolaan sumber daya manusia berusaha seoptimal mungkin mengaitkan proser pencarian, pemikatan, pemilihan, pelatihan, pengembangan, pemeliharaan, promosi, dan pemindahan pegawai agar terkait dengan bisnis
utama perusahaan.

Paradigma yang terkandung dibalik talent management adalah "perusahaan bersaing di level individual". Bila kita berhasil mendapatkan individu-inidividu yang secara rata-rata lebih baik dari pemain lainnya, maka kita akan mendapatkan perusahaan yang akan lebih baik dari pemain lainnya.

Istilah talent management dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Ada beberapa persepsi :

  1. Bagi sebagian pihak, semua orang dianggap memiliki talent, sehingga kita harus mengidentifikasi dan mengembangkan semua talent tersebut.
  2. Hanya sebagian kecil pegawai yang dapat disebut memiliki talent, sehingga kita hanya perlu mengidentifikasi sebagian kecil pegawai yang memiliki talent tersebut dan mengembangkannya.

Kedua persepsi talent management ini ada dalam praktek industri. Dalam praktek manajemen SDM berbasis kompetensi, kedua praktek ini mendapat tempatnya masing-masing. Ini disebabkan dalam penentuan kompetensi, perusahaan dapat membuat kompetensi yang berlaku generik untuk semua
pegawai, kompetensi yang berlaku sesuai dengan peran dan tanggung jawab pegawai di level struktural dan fungsinya, atau bahkan kompetensi fungsional yang benar-benar terkait dengan kompetensi inti perusahaan.

Lalu bagaimana jadinya apabila para talent yang sudah dibina lama tersebut dibajak oleh perusahaan lain? Maka dari itu, sudah merupakan tugas perusahaan agar para talent tersebut betah di tempat kerjanya. Sebab apabila tidak, kerugian yang besar pasti akan menimpa perusahaan. Disamping materi
yang sudah dikeluarkan, perusahaan juga akan mengalami kerugian dari sisi tenaga dan waktu. Perusahaan harus mencari lagi orang baru dan harus melatihnya dari nol. Dengan demikian perusahaan akan lambat berkembang.

Tapi secara umum perusahaan akan melakukan sebuah proses talent management yang terdiri atas :

  1. Proses rekrutmen dan seleksi yang ketat. Inilah proses awal karir sebuah talent akan memasuki sebuah perusahaan. Dengan melakukan langkah ini, perusahaan akan mendapatkan talent-talent yang berkualitas.
  2.  Pemetaan talent. Hal ini dilakukan agar para talent dapat dikelompokan kedalam kompetensi dan keahliannya masing - masing. Pihak perusahaan akan dengan mudah memantau perkembangan setiap talentnya. 
  3. Talent pool. Merupakan sebuah hasil saringan dari para talent terbaik di setiap kelompoknya. Para talent best of the best yang dimasukkan dalam talent pool ini akan dibandrol "NOT FOR SALE" untuk perusahaan lain. Karena merekalah yang akan dipromosikan guna meneruskan kepemimpinan bisnis perusahaan. Biasanya talent pool ini berisikan 3% dari setiap populasi karyawan setiap unit.
  4.  Talent satisfaction. Inilah faktor kunci yang akan menjadikan para talent betah bekerja di sebuah perusahaan. Program ini memanjakan para talent dengan berbagai fasilitas dan pengembangan. Hal ini meliputi :
  • Kebutuhan untuk hidup. Para talent akan diberikan sistem renumerasi pendapatan yang kompetitif dengan perusahaan lain. Barbagai fasilitas dan kemudahan dalam menyikapi beban hidup harus disediakan perusahaan. Kalau perlu lebih besar dari perusahaan lain.
  • Kebutuhan untuk berkembang. Para talent juga manusia. Kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri juga amat dibutuhkan. Oleh karena itu pengembangan karir yang jelas dan kesempatan untuk belajar yang besar amat diminati para talent.
  • Kebutuhan untuk berkontribusi. Para takent membutuhkan sebuah tantangan dan keinginan yang besar dalam memajukan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan yang memberikan kebebasan dan kreativitas yang besar kepada para talent akan membuat mereka berlama - lama di kantor.
  • Kebutuhan untuk dicintai. Budaya kerja yang nyaman layaknya hidup di tengah keluarga merupakan salah satu keinginan setiap karyawan. Dengan budaya kerja yang demikian dapat menghidupkan mental para talent.
  • Kebutuhan untuk meninggalkan warisan. Para talent akan berlomba-lomba untuk melakukan yang terbaik bagi perusahaanapabila perusahaan menghargai setiap kerja mereka. Hasil karya mereka akan terekam terus diperusahaan sampai diganti dengan yang lebih baik.

"Biasanya talent pool ini berisikan 3% dari setiap populasi karyawan setiap unit"

Seorang rekan dalam sebuah diskusi, minggu ini mengajukan pertanyaan sbb :

1. Bagaimana proses diferensiasi dilakukan ?

2. Bagaimana sisa yang 97% ?

3. Apakah ada dalil, riset atau best practices untuk statement di atas


Talent pool, seharusnya hasil pareto orang-orang terbaik yang kita miliki dari orang-orang "baik" yang ada.

Kita harus berbicara prioritas, inilah prinsip dasar manajemen operasional.


Difereniasi dilakukan secara obyektif melalui penilaian kinerja, kompetensi dan potensi yang di miliki. HRD sebagai departemen yang memfasilitasi (bukan yang paling bertanggung jawab !) menyediakan data-data untuk pengambilan keputusan dengan tepat.

Trus bagaimana sisanya yang 97%, ya berlaku "business as usual" saja.

Hanya yang harus diperhatikan, tidak seterusnya TALENT akan menjadi TALENT sampai akhir hayatnya.

Ini mirip pemain sepak bola, ada proses tumbuh berkembang dan naik turun. Disinilah HRD memelihara populasi utama yang 3% atau 10% ini, identifikasi
secara rutin setiap tahun dengan Talent Review yang fair.


Sebenarnya konsep Talent, Competency - sudah ada sejak jaman Romawi, ketika mereka mencari para "prajurit" dan "komandan" terbaiknya yang dapat mengemban tugas operasi dengan baik. Ini semua menggunakan logika sederhana, bagaimana sebuah misi berhasil dilakukan dengan gemilang hanya dengan orang-proses-sistem dan teknologi yang baik. Jadi, dalil ini sudah proven semenjak sekian puluh abad yang lalu.

Demikian sekilas yang perlu dilakukan perusahaan agar para karyawan yang memiliki talent tidak tergiur tawaran perusahaan lain. Tapi langkah-langkah tersebut sangat bergantung dari penilaian para talent itu sendiri. Semoga bermanfaat 

Be Positive and Be Grateful ! 
Disadur dari tulisan :
Mohamad "Bear
Yunus

Kamis, 07 Maret 2013

CARA MEMPERKAYA DIRI DENGAN PENGALAMAN

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Jika saat ini Anda dapat membaca artikel ini, berarti Tuhan telah mengijinkan saya untuk meneruskan artikel saya sebelumnya dengan tema “Memperkaya Diri Dengan Pengalaman”. Seperti yang saya janjikan, kali ini kita akan membahas tentang cara praktis yang bisa kita tempuh untuk memperkaya diri dengan pengalaman sehingga dengan masa kerja yang ada, kita bisa memiliki pengalaman yang lebih banyak. Mengapa kita membutuhkannya? Karena sahabatku, kelak jika kita sudah pensiun. Segala sesuatunya harus kita kembalikan kepada perusahaan. Kecuali satu hal saja. Yaitu, pengalaman yang sudah berhasil kita simpan didalam diri kita. Yang satu ini, akan menjadi milik kita sampai akhir hayat.  
 
Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya; ini tidak gratis. Anda harus membayarnya. Masih ingat dengan apa? Bukan dengan uang Anda, karena meskipun saya butuh uang; saya sama sekali tidak menginginkan uang Anda. Bayarkan dengan tiga hal ini saja; (1) komitmen pribadi yang tinggi (2) tenaga yang lebih banyak, dan (3) waktu ekstra. Itu saja. Bagaimana? Sudah cocok harganya? Deal. Nah, jika Anda sudah siap untuk membayarnya dengan ketiga hal itu, sekarang saya mengundang Anda untuk menemani saya mempelajari cara memperkaya diri dengan pengalaman. Mari memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
 
1.      Menyelesaikan pekerjaan utama tanpa cela. Seseorang punya pengalaman kerja bagus dalam CV-nya. Lalu direkrut oleh perusahaan yang membutuhkan karyawan berpengalaman. Namun dalam masa probation 3 bulan, orang ini tidak menunjukkan kinerja yang memuaskan. Orang ‘berpengalaman’ itu tidak lulus masa percobaan. Padahal menurut CV yang ada, dia sudah lama bekerja dibidang itu. Kenapa ya? Seperti membangun rumah yang wajib dimulai dengan menyelesaikan fondasinya terlebih dahulu. Pekerjaan utama Anda adalah fondasi yang tidak boleh ada cela. Mesti sempurna. Jika pekerjaan kita masih berantakan, itu menunjukkan keterampilan atau komitmen kita yang buruk. Tidak mungkin kita memperkaya diri dengan pengalaman yang lebih banyak, iya kan? Jadi, hal pertama yang mesti Anda pastikan adalah; pekerjaan harian Anda selesai dengan nilai sempurna. Anda mesti memperjuangkannya sampai kesempurnaan itu bisa dicapai. Indikasinya adalah; Anda tidak mengeluhkannya. Anda senang hati dan gigih selama menjalaninya. Dan Anda, menghasilkan kinerja dengan kualitas yang paling baik dibidang itu.
 
2.      Proaktif melakukan job enrichment. Meski banyak yang mengenal istilah ini, tapi hanya sedikit yang mau melakukannya. Job enrichment. Maknanya, seseorang yang punya posisi seperti orang lain; namun diberi tugas tambahan yang lebih banyak dari tugas dan tanggungjawab regulernya. Dengan job enrichment ini, seseorang mesti punya komitmen yang kuat untuk bekerja lebih banyak dan lebih lama dibanding orang lain; tanpa menuntut bayaran tambahan. Glek! Idealnya, job enrichment ini difasilitasi oleh perusahaan. Namun, selain tidak semua perusahaan punya kultur ini; program yang diinisiasi oleh perusahaan juga sering mendapatkan penolakan dari karyawan. Minimal sambutan yang dingin. Karena tanpa kesadaran yang tinggi; jarang ada karyawan yang mau melakukan kerja extra tanpa bayaran tambahan. Jika Anda ingin kaya dengan pengalaman, job enrichment merupakan pilihan tepat. Bagaimana jika perusahaan Anda tidak punya program ini? Anda yang harus proaktif mengusulkannya kepada perusahaan. Supaya Anda, mendapatkan kesempatan pertama dalam penerapannya
 
3.      Menjalani job enrichment secara informal. Perusahaan Anda, belum tentu mempunyai kesiapan system dan organisasi untuk melakukan job enrichment secara formal. Tetapi, kita bisa melakukannya secara informal. Salah satu cara yang bisa Anda coba adalah; datanglah kepada atasan Anda. Lalu menawarkan diri membantu menyelesaikan tugas-tugas beliau. (Glek! Lagi) Anda tentu mafhum bahwa atasan Anda mempunyai tugas dan tanggungjawab yang lebih tinggi dari Anda. Maka ketika Anda belajar menyelesaikan tugas beliau; Anda sedang mendorong diri Anda agar naik kelas dengan mendapatkan pengalaman mengerjakan tugas-tugas yang melampaui posisi Anda. Saya, mempraktekkan cara itu. Hasilnya? Hmmh… asyik banget. Dan saya, kena hukum karma. Beberapa anak buah saya mengetuk pintu kamar kerja saya, lalu katanya;”Pekerjaan saya sudah selesai Pak. Apakah saya bisa membantu menyelesaikan pekerjaan Bapak?” Nah. Profesional seperti inilah yang bakal mempunyai kekayaan pengalaman berharga bagi masa depan karirnya. Anda sudah terbiasa dengan perilaku ini? Jika belum, cobalah sekarang juga.
 
4.      Ikutilah projek-projek di departemen lain. Anda tentu sibuk sekali dengan tugas-tugas Anda. Apakah Anda senang jika perusahaan menugaskan seseorang untuk  membantu menyelesaikan tugas-tugas berat Anda? Tentu senang sekali ya. Tapi, percayalah; itu tidak akan terjadi. Tapi mari kita lihat sisi baiknya. Seseorang di departemen lain pun mengharapkan adanya tenaga bantuan karena mereka pun sama sibuknya dengan Anda. Dan seperti Anda, mereka juga tidak akan dapat tambahan orang dari perusahaan. Maka, Anda; boleh mendatangi kepala departemen atau direkturnya – dengan seijin atasan Anda – untuk menawarkan diri membantu terlibat dalam proyek-proyek mereka (Glek! Sekali lagi). Saya. Dulu mempraktekkan itu. Hasilnya? Boss-boss menelepon saya; “Ada jabatan kosong ditempat gue. Elo mau pindah ke team gue?!” Oh, sedap sekali. Anda, jika sudah terbiasa terlibat dalam proyek-proyek didivisi atau departemen lain, akan memiliki kekayaan pengalaman yang melimpah ruah. Dan kelak; Anda akan mendapatkan penawaran pertama ketika departemen itu sedang membutuhkan orang untuk mengisi jabatan kosong yang ada.
 
5.      Efektifkanlah waktu kerja Anda. Kita semua mempunyai tantangan yang sama, yaitu; waktu yang sangat terbatas. Makanya banyak orang ragu, bagaimana mungkin kita punya pengalaman yang kaya dalam waktu yang serba singkat ini. Hey. Waktu setiap orang sama. 24 jam sehari. Tapi kenapa ada yang tetap miskin dengan pengalaman. Dan ada yang kaya? Jawabannya terletak kepada seberapa efektifnya dia menggunakan waktu yang ada. Coba simak sekeliling Anda. Ada yang datang pagi-pagi absen. Bukan langsung bekerja. Melainkan pergi ke warung kopi, terus merumpi sampai jam setengah sembilan. Lihat fenomena jam makan siang. Setengah dua belas orang sudah pada berebut bubaran. Dan jam satu, masih belum balik lagi. Bagaimana dengan jam pulang kantor? Begitu ‘teng’, langsung ‘go’. Sahabatku, kekayaan pengalaman tidak bisa didapat dengan cara menggunakan waktu kerja seperti itu. Ingatlah bahwa waktu kita terbatas. Setiap detik, sangat berharga. Maka gunakanlah detik demi detik Anda untuk menambah kekayaan pengalaman. (Glek! Juga)
 
Banyak sekali Glek!-nya ya?
Sudah saya katakan sebelumnya. Bahwa kekayaan pengalaman tidak bisa didapatkan secara gratis. Anda harus membayarnya dengan 3 hal. Masih ingat apa saja itu? Yes. (1) komitmen pribadi yang tinggi (2) tenaga yang lebih banyak, dan (3) waktu ekstra. Saya tahu bahwa hanya sedikit orang yang mau membayarnya dengan ketiga hal ini. Makanya, hanya sedikit karyawan yang memiliki kekayaan pengalaman yang tinggi. Dan itulah pula sebabnya mengapa nilai mereka sangat tinggi. Mereka tidak perlu melamar kerja, karena banyak boss yang ingin mempekerjakan mereka. Mereka tidak perlu merengek minta kenaikan gaji karena mereka mendapatkan kenaikan gaji istimewa diluar jadwal regulernya yang setahun sekali itu.
 
Dan ketika pensiun kelak. Mereka memiliki bekal yang jauh lebih bernilai dibandingkan dengan sejumlah uang yang belum tentu mencukupi biaya hidup sampai tutup usia. Mereka. Menjadi punya lebih banyak peluang untuk bisa dilakukannya kelak setelah tidak berstatus sebagai karyawan lagi. Dan mereka, bisa melihat begitu banyak kesempatan yang bisa diraihnya. Dengan berbekal pengalaman yang beragam macam itu. Jadi, jelas sekali jika pengalaman sangat bermanfaat bagi hari esok kita. Maka mari sahabatku, kita belajar memperkaya diri dengan pengalaman. Demi kebaikan hari esok kita. Seperti yang Tuhan perintahkan dalam surah 59 (Al-Hasyr) ayat 18 : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwallah kepada Allah. Dan hendaklah setiap jiwa menyiapkan bekalnya untuk hari esok…..” Hari esok kita sungguh sangat panjang, sahabatku. Mari temani saya memperkaya diri dengan pengalaman berharga. Sebagai bekal untuk menempuhnya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman 7 Maret 2013
Book Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Tentram hati ketika yakin bahwa bekal kita untuk hari esok sudah mencukupi. Gundah gulana jika kita belum mempunyai persiapan apa-apa. Maka mumpung masih ada waktu. Ayo kita siapkan bekalnya sedikit demi sedikit.

Selasa, 05 Maret 2013

Insight

Kamu Telah Membunuh Istrimu!

murder_scene1“Saya harus akhiri semua ini.” Celetuk teman saya pada suatu pagi.
“Kabar bagus nih.” Ucap saya dalam hati. Saya berasumsi bahwa dia harus mengakhiri hubungan perselingkuhan dia dengan seorang wanita.
“Ada apa?” Saya memutuskan untuk bertanya, dengan suara yang saya buat terdengar sebijak mungkin.
“Istri saya.”
“Kok tentang istrinya..?” Tanya saya dalam hati.
“Saya harus menceraikannya.” Katanya yakin.
“…” Tiba-tiba saya mengalami kebingungan sesaat.

Saya tahu teman saya ini berselingkuh dan saya berkali-kali mencoba menasihati agar dia kembali ke keluarganya. Sekarang malah dia akan mengakhiri rumah tangga dengan istrinya.
“Saya tidak bisa lagi melanjutkan rumah tangga ini. Istri saya bukan lagi wanita yang dulu saya kenal. Saya bosan dan capek dengannya.” Dia mencoba menjelaskan alasannya.
“Bukan lagi wanita yang dulu saya kenal? Maksudmu?” Sekarang saya bertanya dengan nada yang asli serius.
“Dia selalu tampak bodoh, tidak berinisiatif dan selalu ada kesalahan yang dia buat.. tiap hari. Dulu saya jatuh cinta karena dia selalu tampil percaya diri dan kelihatan pintar. Dia bukan orang yang dulu saya kenal.”
“Ya. Karena kamu telah membunuhnya!” Kata saya dalam hati.
Bagaimana Anda Memandang Suatu Kesalahan?
Apakah Anda bisa mengingat suatu kejadian dimana Anda melakukan suatu kesalahan dan mendapat suatu masalah karenanya? Kemudian, apakah Anda juga ingat bahwa Anda sadar tentang kesalahan itu tetapi tetap merasa sakit hati atas respon yang diberikan orang lain (Boss, kakak, orang tua, pasangan, atau rekan Anda) itu kepada Anda? Apakah Anda sadar bahwa sekarangpun Anda masih bisa merasakan ‘sakit’ yang Anda pendam akibat dari kejadian itu?
Sekarang, apakah Anda pernah menimbulkan ‘sakit’ serupa pada orang lain?
Kesalahan adalah bagian dari hidup kita sebagai manusia. Bahkan kesalahan adalah bagian dari kesempurnaan kita sebagai manusia. Sistem kerja kemanusiaan kita bekerja dengan sangat luar biasa dan memungkinkan kita melakukan banyak hal termasuk berbuat kesalahan. Binatang tidak pernah berbuat salah karena sistem mereka adalah sistem ‘satu arah’. Mereka hanya melakukan sesuatu bila memang ‘saatnya’ tiba dan pola-polanya bisa ditebak serta dipelajari dengan mudah.
Semua manusia sama. Dari waktu ke waktu kita melakukan suatu bentuk kesalahan, entah itu dalam ukuran yang kecil atau besar. Menyadari hal itu sudah seharusnya kita mampu menerima kesalahan sebagai suatu hal yang manusiawi. Itu harus menjadi landasan.
Kemudian, sistem kemanusiaan kita juga memungkinkan kita untuk belajar memperbaiki diri. Dari kecil kita terus belajar, mulai dari belajar berbicara, berjalan dan sampai saat ini tak terhitung hal-hal yang telah kita pelajari. Kita mahluk pembelajar. Itu harus menjadi landasan berikutnya.
Kesalahan adalah sesuatu yang manusiawi dan manusia adalah mahluk pembelajar hendaknya membawa kita pada suatu pemahaman bahwa manusia mampu memperbaiki diri. Manusia mampu menganalisa apapun yang telah dilakukan dan di alami untuk kemudian memperbaiki diri agar mampu melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi sekaligua mengalami sesuatu yang lebih baik dalam hidupnya.
Mengambil tindakan yang menunjukkan bahwa memberikan kesempatan dan mempercayai bahwa orang lain akan mampu memperbaiki diri adalah hal yang harus kita lakukan bila kita menemukan orang lain melakukan suatu kesalahan. Itu adalah cara yang manusiawi dalam melihat suatu kesalahan.
Di sekeliling kita sering terjadi hal-hal yang kurang manusiawi berkenaan dengan cara seseorang memandang kesalahan. Banyak sekali contohnya:
“Kamu memang biang masalah!” Kata Boss kepada anak buahnya.
“Kamu itu selalu salah. Gak pernah ngerjain sesuatu dengan bener. Selalu kaya gitu.” Kata teman saya tadi pada sang istri.
“Awas ya kalau kamu gitu lagi. Kamu selalu membuat malu orang tua!” Kata seorang ayah kepada anaknya.
Apakah cara Anda selama ini sudah cukup manusiawi dalam memandang kesalahan?
Bagaimana Manusia Berubah
Mengapa cara-cara merespon kesalahan yang kurang manusiawi, seperti pada beberapa contoh di atas, kurang efektif bahkan cenderung membawa dampak yang tidak kita inginkan?
Penjelasan pertama adalah bahwa otak kita tersusun atas milyaran cabang yang terhubung satu sama lain membentuk suatu jaringan yang, selanjutnya, mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakan (thoughts, feelings, actions) kita. Satu kejadian akan merangsang tumbuhnya satu cabang. Perulangan kejadian yang sama akan memperkuat cabang. Sementara hal-hal yang berhenti dirangsang akan menyebabkan cabang-cabang yang sudah terbentuk menjadi rapuh.
Ketika seorang suami berkata, “Kamu itu selalu salah. Gak pernah ngerjain sesuatu dengan bener. Selalu kaya gitu” apa yang terekam si istri adalah ‘selalu salah’, ‘gak pernah bener’ dan ‘selalu kaya gitu’ (salah terus). Dari hari ke hari, tiap kali si suami mengatakan ucapan semacam itu, saat itu juga rekaman diulang, diperjelas, dan membentuk cabang dalam otak. Lama kelamaan cabang-cabang baru menjadi kuat dan membentuk identitas baru dalam diri si istri bahwa dia selalu salah, selalu nggak bener dan akan selalu seperti itu. Identitas itu akan selalu muncul sebagai tindakan mana kala ada pemicunya, dalam hal ini pemicunya adalah melakukan sesuatu untuk suaminya. Setelah sekian waktu si suami akan mendapati bahwa istrinya sudah berubah. Tanpa sadar dia telah berperan aktif dalam merapuhkan cabang-cabang otak si istri yang berisi informasi bahwa dia pintar, cerdas, confidence dan lainnya yang membuat sang suami jatuh cinta. Tanpa sadar dia sendiri yang telah ‘membunuh’ (personaliti) istrinya yang dahulu.
Seorang pimpinan mungkin saja melakukan beberapa ‘pembunuhan’ sehingga anak buah yang dulu baik dan mampu bekerja sesuai standar sekarang menjadi seorang yang lain, seorang pemberontak, trouble maker, biang kerok, dan lainnya. Tanpa sadar setiap kali memberikan feedback kepada anak buah cara yang ditempuhnya kurang bisa diterima oleh si anak buah sehingga menimbulkan sakit hati, resistensi, yang berujung pada perubahan personaliti. Surat warning yang diberikan secara keliru, makian, nasihat yang berlebihan dan kurang proporsional pada akhirnya ‘membunuh’ (personaliti) anak buah dan merubahnya menjadi sosok yang justru dibenci oleh sang atasan.
Penjelasan kedua adalah dengan mengacu pada penelitian oleh Alan Deutschman yang diulas dalam bukunya Change or Die.
Seberapa sering Anda mendengar retorika ‘change or die’ yang memang terdengar keren? Apakah retorika itu berhasil? Kalau ukuran berhasil adalah gegap gempita yang ditimbulkan setelah seorang pemimpin meneriakkan “change or die” jawabnaya adalah: berhasil. Kalau ukurannya adalah perubahan yang terjadi setelah retorika itu, pada kebanyakan kasus dan sebagian besar perusahaan atau bahkan korporasi yang ada saat ini, jawabannya adalah nihil alias tidak berhasil. Kenapa retorika yang demikian dahsyat kebanyakan gagal?
Dalam buku Change or Die Alan Deutschman menemukan bahwa 90% penderita sakit jantung yang sudah mengalami operasi bypass tidak mau merubah pola hidupnya bahkan setelah dokter menyatakan bahwa pilihan dia adalah berubah atau mati. 90% masih tetap mengkonsumsi makanan berlemak dan kolesterol tinggi, masih merokok, dan masih enggan berolah raga. Bahkan 90% mulai cuek terhadap obat yang diberikan dokter beberapa saat setelah sakit yang mereka rasakan mulai hilang. 9 dari 10 pasien jantung itu tetap menjalani pola hidup yang sama padahal mereka telah mendengar penjelasan tentang fakta-fakta apa saja yang bisa ditimbulkan oleh makanan berlemak, rokok, dan kurang olah raga. Padahal mereka juga telah telah ditakut-takuti apabila mereka tetap seperti itu malaikat maut akan segera menjemput. Padahal mereka sudah sering dipaksa untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat oleh keluarga mereka. Mengapa mereka belum berubah?
Karena memberikan fakta (fact), menakut-nakuti (fear), dan memaksa (force) alias 3F yang dikenal oleh gaya manajemen lama memang sebenarnya tidak pernah efektif. Kalau 3F efektif itu hanya sebatas kulit, sebatas obedience atau kepatuhan kosong. 3F efektif manakala orang diawasi, bos harus selalu melotot selama jam kerja, polisi harus selalu waspada 24 jam di jalan, orang tua harus selalu menguntit anaknya, dan lain sebagainya. Intinya perubahan melalui 3F tidak kekal. Ini yang juga jarang diketahui oleh para trainer sekalipun.
3F berasal dari budaya yang mendewakan kognitif, budaya yang mendewakan angka-angka (jadi ingat anak-anak kita di sekolah…). Kebanyakan pemimpin merasa bahwa semua hal harus logis dan rasional. Hampir semua pemimpin berpendapat bahwa segala sesuatu yang logis dan rasional pasti berjalan dengan baik. Sementara kebanyakan pemimpin lupa bahwa sebenarnya uang yang dihasilkan oleh mereka di dapat dari kesetiaan konsumen atau pelanggan. Sementara kesetiaan konsumen tersebut sering kali merupakan hal yang non-rasional atau non logis. Kemudian produk atau jasa yang dinikmati oleh para pelanggan itu dihasilkan oleh manusia, sementara produktifitas dan efektifitas manusia bukan dipengaruhi oleh keadaan rasional atau logis tetapi lebih dipengaruhi oleh keadaan emosionalnya.
Penyajian informasi dan fakta serta menambahkan kekuatan dosisnya dengan ancaman plus paksaan pada kenyataannya tidak efektif. Itulah sebabnya banyak perusahaan yang sampai saat ini menjalankan banyak program dengan hasil yang senantiasa sama, bahkan cenderung membuat karyawan mereka berkomentar pesimis, “Ada apa lagi sekarang?” Perubahan hanya bisa dimungkinkan bila kita dengan tulus menawarkan hubungan emosional yang membuat orang lain merasa nyaman dengan diri mereka sekaligus nyaman dengan hubungan mereka bersama kita sehingga mereka melihat adanya harapan (hope).
Bukan suatu rencana atau strategi yang lebih logis dan rasional yang dibutuhkan untuk suatu perubahan. Seperti kata Alan Deutschman, “Apa yang kita perlukan untuk berubah adalah seseorang yang bisa memberi kita kepercayaan dan harapan bahwa kita bisa berubah. Ini seperti keyakinan yang kuat bahwa kita bisa berubah. Itu dimungkinkan dengan adanya hubungan yang lebih tulus dan inspirasi yang terus menerus dari mereka yang dengan ikhlas mempercayai kita. Ini adalah sesuatu yang dikomunikasikan pada tingkat emosional.” Jelasnya, kunci dari perubahan adalah adanya hubungan yang lebih tulus dan membuat orang lain merasa nyaman serta aman.
Alan Deutschman membuat formulasi 3R untuk perubahan yang dimulai dengan hubungan yang lebih tulus dan membuat orang lain merasa nyaman serta aman ini. 3R itu adalah relate (berhubungan), repeat (mengulangi), dan reframe (membingkai ulang). Artinya untuk berubah harus dimulai dengan hubungan yang tulus tadi. Hubungan yang tulus itu harus terus menerus berulang sehingga orang bisa mempunyai bingkai baru dalam benaknya bahwa, “Ya. Saya bisa berubah.”
Secara praktis, kembali kepada konsep kemanusiaan (H.U.M.A.N Technology), ketika seseorang melakukan kesalahan maka kita harus menerima itu sebagai hal yang manusiawi. Bila kita ingin orang tersebut berubah yang harus kita tawarkan adalah, sekali lagi, hubungan yang lebih tulus dan membuat orang lain merasa nyaman serta aman. Mari kita ambil contoh kasus suami istri di atas.
Ketika sang istri semisal membuatkan sang suami segelas kopi dan menurut si suami racikan tersebut tidak pas maka yang bisa dilakukuan suami pertama kali adalah, “Terima kasih kopinya ya.” Berterima kasih atas usaha sang istri dengan tulus. Kemudian ketika situasi memungkinkan bisa diikuti dengan, “Ma, papa ini jagoan bikin kopi. Papa yakin kalau resep ini papa bagi ke mama pasti mama bisa membuat racikan kopi juara.” Bila itu sudah dilakukan dan si suami menyukai hasilnya, hukumnya wajib bagi si suami untuk memuji si istri (bukan memuji resep rahasianya) dan bisa ditingkatkan dosisnya dengan memuji si istri di depan orang tua, mertua, atau teman yang lain. Ingat relate, repeat dan reframe.
Kembali Pada Kemanusiaan, H.U.M.A.N TechnologyTM
Entah berapa banyak anak buah yang sudah kita ‘bunuh’ sehingga bangkit menjadi zombie yang keras kepala, sulit diatur, pemalas, dan lainnya, entah kapan kita ‘membunuh’ anak kita yang dulu adalah anak yang terbuka, jujur, dan bekerja sama, tidak tahu bagaimana kita mulai ‘membunuh’ pasangan kita sehingga sekarang mereka menjelma menjadi orang yang kurang kita kenali serta selalu kita keluhkan. Tidak terlalu penting mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Saat ini sebaiknya kita berkonsentrasi untuk menghidupkan kembali anak buah kita, anak kita, atau pasangan kita menjadi sosok yang kita damba. Itu semua bisa kita lakukan dengan kembali pada kemanusiaan kita.
H.U.M.A.N TechnologyTM dilahirkan berlandaskan pada kepercayaan bahwa manusia telah dibekali perangkat-perangkat hebat untuk mampu mewujudkan dunia yang ideal. Perangkat-perangkat tesebut adalah rasa (feelings), pikiran (thoughts) dan tindakan (actions). Ketiga hal tersebut harus senantiasa selaraskan di dalam setiap upaya kita.
Dalam kaitannya dengan mencoba merubah orang dengan cara-cara ‘biasa’ seperti menghukum orang dengan kata-kata kita, melepaskan amarah kita, dan lain sebagainya, itu semua pasti bertentangan dengan kemanusiaan bila kita ukur dengan rasa, pikiran, dan tindakan tadi. Sebagai contoh setelah kita menumpahkan amarah kita atau berkata-kata dengan pernyataan yang menyakitkan hati pada naka buah, anak, atau istri kita, pasti itu semua meninggalkan perasaan yang tidak enak di dalam dada kita. Itu adalah pertanda ada yang kurang tepat dari tindakan kita. Kemudian kalau kita benar-benar mau menganalisa dengan pikiran kita apakah tindakan kita tadi akan menghasilkan suatu perubahan yang esensial dan signifikan, pasti jawabannya adalah tidak. Nah, segala sesuatu yang tidak manusiawi (baca: tidak enak di perasaan, analisa positif tidak mendukung, dan jauh dari standar tindakan positif) pasti tidak akan berhasil bila diterapkan kepada manusia.
Cara 3R, relate, repeat, dan reframe yang diusung oleh Alan Deutschman terbukti manusiawi. Banyak hasil positif yang telah didapatkan dari cara ini (baca Change or Die) maka cara semacam inilah yang seharusnya mulai sekarang kita pilih di dalam setiap upaya kita untuk menuju pada suatu keadaan yang lebih baik, di dalam bisnis kita, di lingkungan sosial kita, atau di dalam rumah tangga kita. Penulis tidak akan berkata proses 3R akan mudah. Yang jelas cara ini sangat efektif dan penulis yakin dengan kemanusiaan yang kita punyai, kita pasti bisa mempraktekkan 3R ini.
Mari kita hentikan ‘pembunuhan-pembunuhan’ yang selama ini kita lakukan. Mari kita mulai lagi perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dengan cara yang lebih manusiawi. Let’s relate, repeat, and reframe.

disadur dari tulisan 
thehumantechnology.com

Sukses Bukan Hak Anda

Kaget mendengar judul dari artikel ini? Sekian lama Anda mendengar jargon-jargon ‘sukses adalah HAK Anda’, ‘Anda berHAK untuk sukses’, dan lain sebagainya, kemudian sekarang The Human Technology men-klaim bahwa sukses BUKAN HAK Anda. Ya. Anda berhak untuk kaget.
Sebelum melanjutkan kekagetan Anda, saya ingin membicarakan dulu definisi ‘hak’ dan ‘sukses’. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, hak adalah kekuasaan atau wewenang untuk menuntut. Sedangkan di dalam bahasa Inggris arti dari hak atau right kurang lebih sama dengan artinya didalam bahasa Indonesia, a freedom that is morally or legally due to a person. Meneliti kata hak disini akan membawa Anda pada suatu pemahaman bahwa Anda mempunyai wewenang atau diperbolehkan untuk menuntut atau meminta. Sehingga kalimat ‘sukses adalah HAK Anda’ bisa Anda artikan Anda diperbolehkan (mempunyai wewenang) untuk menuntut atau meminta kesuksesan. Bagaimana kalau saya tidak menuntut atau memintanya? Tidak apa-apa, tidak ada masalah.
Sekarang mari melihat arti kata sukses. Definisi yang dirumuskan oleh tim Human Technology tentang sukses: sukses adalah rasa yang sangat enak, pas dan membuat Anda merasa ‘terpenuhi’. Coba Anda resapi sekali lagi definisi dari sukses itu.
Definisi tersebut akan semakin jelas bila Anda telusuri dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan pertama, APA sebenarnya sukses itu? Sukses adalah RASA. Pertanyaan kedua, RASA seperti apa? rasa yang ENAK dan PAS. Pertanyaan terakhir, bagaimana rasa yang PAS dan ENAK itu? Rasa yang membuat Anda TERPENUHI.
Anda mungkin bingung bila mendengar seorang miliuner sekaliber Jean Paul Getty (1892 – 1976) dengan harta 1 milliar dollar (jelas jumlah yang sangat fantastis pada era itu) berkelit bahwa dia kaya raya. Dia bahkan ‘tidak merasa bahagia’ dengan pernikahan-pernikahannya sampai-sampai dia mengeluarkan statement yang kurang mengenakkan tentang hubungan dengan wanita, “A lasting relationship with a woman is only possible if you are a business failure.”” Hubungan yang langgeng dengan wanita hanya memungkinkan bila Anda gagal dalam berbisnis.” Itulah yang dia katakan.
Martha-StewartAtau mungkin saja Anda bertanya-tanya ketika Martha Stewart, seorang pebisnis makanan yang begitu sukses, merasa tidak bahagia dengan rumah mewah terbarunya sehingga dia mencela rumah yang sudah dibelinya itu. Dia berkata, Saya memiliki rumah akhir pekan yang indah di Hamptons, tapi itu bukan rumah musim panas impian saya. Tidak ada pemandangan laut, tidak ada lantai kayu, tidak ada dermaga kecilnya dan tidak ada laguna sunyi tempat saya bisa memetik tanaman.” Dia terdengar tidak bahagia dengan rumah akhir pekannya yang berharga miliaran rupiah.
Anda boleh berpikir, “Bagaimana mungkin orang sesukses mereka bisa merasa ‘kurang’?” Jawabannya sederhana, karena kekayaan dan materi bukan definisi kesuksesan. Karena sukses adalah rasa yang sangat enak, pas dan membuat Anda merasa ‘terpenuhi’. Kalau Anda atau siapapun sudah bergelimang harta dan materi tetapi belum merasakan tiga hal itu, sangat enak, pas dan terpenuhi, maka Anda belum sukses. Yang lebih ‘ngeri’ lagi, pada situasi itu Anda akan merasa sangat tidak enak, tidak pas dan merasa tidak terpenuhi. Ya. Tepat sekali bayangan Anda. Hidup akan terasa sempit dan tidak bersahabat dalam situasi seperti itu, bahkan ketika Anda bergelimang harta dan materi sekalipun.
Kembali pada masalah HAK tadi. Bila Anda berhak sukses maka Anda diperbolehkan (mempunyai wewenang) untuk menuntut atau meminta kesuksesan. Bagaimana kalau saya tidak menuntut atau memintanya? Sekali lagi kalau Anda hanya merasa ber-HAK, maka tidak sukses ya tidak apa-apa. Benarkah tidak apa-apa?
Tidak apa-apa disini berarti Anda merasa tidak ada masalah dengan perasaan yang sangat tidak enak, tidak pas dan merasa selalu kekurangan. Anda merasa fine-fine saja hidup dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari dengan perasaan-perasaan yang luar biasa menyiksa seperti itu. Benarkan, tepatnya bisakah, Anda merasa tenang bila setiap saat yang ada di hati Anda adalah perasaan tidak enak, perasaan tidak pas dan perasaan kekurangan? Sebagai manusia kebanyakan saya akan menjawab tegas untuk diri saya sendiri, TIDAK BISA!”
Setiap waktu, saya butuh perasaan yang sangat enak, saya mendambakan perasaan yang pas dan saya mengharapkan perasaan terpenuhi. Saya harus menjalani hidup saya dengan semua rasa itu. Saya butuh sukses!
Tepat sekali. Sukses adalah kebutuhan Anda, saya dan semua orang di dunia ini tanpa terkecuali karena sukses adalah tentang rasa seperti di atas. Itulah mengapa Tuhan mengajar Anda agar mau merubah nasib, agar berusaha mencapai kesuksesan. Itulah kenapa ratusan ribu uang telah Anda investasikan untuk membeli buku-buku tentang sukses, jutaan rupiah Anda belanjakan untuk mengikuti seminar tentang sukses. Sekali lagi karena sukses itu KEBUTUHAN.
Setelah Anda mengerti bahwa sukses itu adalah kebutuhan, masihkah Anda ragu untuk mengejarnya. Masihkan Anda merasa bahwa Anda tidak cukup mempunyai modal, tidak cukup pandai atau tidak cukup beruntung untuk mengejar sukses? Sukses sejak awal bukanlah tentang harta, bukan tentang kepandaian, dan bukan tentang keberuntungan. Sukses sejak awal adalah tentang mensyukuri apa yang perlu Anda syukuri agar Anda merasa sangat enak, merasa pas dan merasa terpenuhi.
Ketika perasaan Anda sudah merasa sangat enak, pas dan terpenuhi maka Anda akan melihat dunia Anda dengan lebih indah. Hati dan pikiran Andapun akan merdeka sehingga Anda mempunyai semangat untuk menjalani kehidupan. Pada saat itu tidak ada masalah yang terlalu besar untuk Anda hadapi dan selesaikan, tidak ada kenikmatan yang terlalu kecil untuk Anda syukuri. Begitu seterusnya bila Anda sudah mendapati sukses itu.
Kalau Anda bertanya, “Bagaimana dengan kekayaan?” Sukses memang bukan tentang kebendaan atau materi tetapi hal-hal itu sering kali merupakan bonus kesuksesan. Selayaknya pohon, sukses adalah batang, dahan dan daunnya sementara kekayaan materi adalah buahnya. Akarnya adalah syukur. Anda tidak akan pernah mendapatkan kelezatan buahnya bila tidak menumbuhkan pohonnya. Anda tidak akan berhasil menumbuhkan pohonnya bila akarnya tidak sehat dan subur.
Kekayaan dan kelimpahan materi yang merupakan bonus sukses adalah HAK Anda. Anda boleh mengambil banyak, secukupnya atau sedikit saja tergantung keinginan Anda. Sementara sukses adalah kebutuhan Anda, maka Anda harus senantiasa mengupayakannya karena tanpa itu hidup Anda akan kering, penuh kesempitan. Sekali lagi, agar mampu meraih sukses, modal utamanya adalah syukur. Syukur itu bagaimana? Belajarlah pada para bijak, bacalah buku, dan mohonlah pada Tuhan, niscaya Anda akan segera memahaminya.
Anda BUTUH sukses. Segeralah raih sukses itu. Sekarang juga!

Disadur dari Tulisan :
thehumantechnology.com