Kamu Telah Membunuh Istrimu!
“Saya harus akhiri semua ini.” Celetuk teman saya pada suatu pagi.
“Kabar bagus nih.” Ucap saya dalam hati. Saya berasumsi bahwa dia harus mengakhiri hubungan perselingkuhan dia dengan seorang wanita.
“Ada apa?” Saya memutuskan untuk bertanya, dengan suara yang saya buat terdengar sebijak mungkin.
“Istri saya.”
“Kok tentang istrinya..?” Tanya saya dalam hati.
“Saya harus menceraikannya.” Katanya yakin.
“…” Tiba-tiba saya mengalami kebingungan sesaat.
Saya
tahu teman saya ini berselingkuh dan saya berkali-kali mencoba
menasihati agar dia kembali ke keluarganya. Sekarang malah dia akan
mengakhiri rumah tangga dengan istrinya.
“Saya
tidak bisa lagi melanjutkan rumah tangga ini. Istri saya bukan lagi
wanita yang dulu saya kenal. Saya bosan dan capek dengannya.” Dia mencoba menjelaskan alasannya.
“Bukan lagi wanita yang dulu saya kenal? Maksudmu?” Sekarang saya bertanya dengan nada yang asli serius.
“Dia
selalu tampak bodoh, tidak berinisiatif dan selalu ada kesalahan yang
dia buat.. tiap hari. Dulu saya jatuh cinta karena dia selalu tampil
percaya diri dan kelihatan pintar. Dia bukan orang yang dulu saya
kenal.”
“Ya. Karena kamu telah membunuhnya!” Kata saya dalam hati.
Bagaimana Anda Memandang Suatu Kesalahan?
Apakah
Anda bisa mengingat suatu kejadian dimana Anda melakukan suatu
kesalahan dan mendapat suatu masalah karenanya? Kemudian, apakah Anda
juga ingat bahwa Anda sadar tentang kesalahan itu tetapi tetap merasa
sakit hati atas respon yang diberikan orang lain (Boss, kakak, orang
tua, pasangan, atau rekan Anda) itu kepada Anda? Apakah Anda sadar bahwa
sekarangpun Anda masih bisa merasakan ‘sakit’ yang Anda pendam akibat
dari kejadian itu?
Sekarang, apakah Anda pernah menimbulkan ‘sakit’ serupa pada orang lain?
Kesalahan
adalah bagian dari hidup kita sebagai manusia. Bahkan kesalahan adalah
bagian dari kesempurnaan kita sebagai manusia. Sistem kerja kemanusiaan
kita bekerja dengan sangat luar biasa dan memungkinkan kita melakukan
banyak hal termasuk berbuat kesalahan. Binatang tidak pernah berbuat
salah karena sistem mereka adalah sistem ‘satu arah’. Mereka hanya
melakukan sesuatu bila memang ‘saatnya’ tiba dan pola-polanya bisa
ditebak serta dipelajari dengan mudah.
Semua
manusia sama. Dari waktu ke waktu kita melakukan suatu bentuk
kesalahan, entah itu dalam ukuran yang kecil atau besar. Menyadari hal
itu sudah seharusnya kita mampu menerima kesalahan sebagai suatu hal
yang manusiawi. Itu harus menjadi landasan.
Kemudian,
sistem kemanusiaan kita juga memungkinkan kita untuk belajar
memperbaiki diri. Dari kecil kita terus belajar, mulai dari belajar
berbicara, berjalan dan sampai saat ini tak terhitung hal-hal yang telah
kita pelajari. Kita mahluk pembelajar. Itu harus menjadi landasan
berikutnya.
Kesalahan
adalah sesuatu yang manusiawi dan manusia adalah mahluk pembelajar
hendaknya membawa kita pada suatu pemahaman bahwa manusia mampu
memperbaiki diri. Manusia mampu menganalisa apapun yang telah dilakukan
dan di alami untuk kemudian memperbaiki diri agar mampu melakukan
sesuatu dengan lebih baik lagi sekaligua mengalami sesuatu yang lebih
baik dalam hidupnya.
Mengambil
tindakan yang menunjukkan bahwa memberikan kesempatan dan mempercayai
bahwa orang lain akan mampu memperbaiki diri adalah hal yang harus kita
lakukan bila kita menemukan orang lain melakukan suatu kesalahan. Itu
adalah cara yang manusiawi dalam melihat suatu kesalahan.
Di
sekeliling kita sering terjadi hal-hal yang kurang manusiawi berkenaan
dengan cara seseorang memandang kesalahan. Banyak sekali contohnya:
“Kamu memang biang masalah!” Kata Boss kepada anak buahnya.
“Kamu itu selalu salah. Gak pernah ngerjain sesuatu dengan bener. Selalu kaya gitu.” Kata teman saya tadi pada sang istri.
“Awas ya kalau kamu gitu lagi. Kamu selalu membuat malu orang tua!” Kata seorang ayah kepada anaknya.
Apakah cara Anda selama ini sudah cukup manusiawi dalam memandang kesalahan?
Bagaimana Manusia Berubah
Mengapa
cara-cara merespon kesalahan yang kurang manusiawi, seperti pada
beberapa contoh di atas, kurang efektif bahkan cenderung membawa dampak
yang tidak kita inginkan?
Penjelasan
pertama adalah bahwa otak kita tersusun atas milyaran cabang yang
terhubung satu sama lain membentuk suatu jaringan yang, selanjutnya,
mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakan (thoughts, feelings, actions)
kita. Satu kejadian akan merangsang tumbuhnya satu cabang. Perulangan
kejadian yang sama akan memperkuat cabang. Sementara hal-hal yang
berhenti dirangsang akan menyebabkan cabang-cabang yang sudah terbentuk
menjadi rapuh.
Ketika seorang suami berkata, “Kamu itu selalu salah. Gak pernah ngerjain sesuatu dengan bener. Selalu kaya gitu”
apa yang terekam si istri adalah ‘selalu salah’, ‘gak pernah bener’ dan
‘selalu kaya gitu’ (salah terus). Dari hari ke hari, tiap kali si suami
mengatakan ucapan semacam itu, saat itu juga rekaman diulang,
diperjelas, dan membentuk cabang dalam otak. Lama kelamaan cabang-cabang
baru menjadi kuat dan membentuk identitas baru dalam diri si istri
bahwa dia selalu salah, selalu nggak bener dan akan selalu seperti itu.
Identitas itu akan selalu muncul sebagai tindakan mana kala ada
pemicunya, dalam hal ini pemicunya adalah melakukan sesuatu untuk
suaminya. Setelah sekian waktu si suami akan mendapati bahwa istrinya
sudah berubah. Tanpa sadar dia telah berperan aktif dalam merapuhkan
cabang-cabang otak si istri yang berisi informasi bahwa dia pintar,
cerdas, confidence dan lainnya yang membuat sang suami jatuh
cinta. Tanpa sadar dia sendiri yang telah ‘membunuh’ (personaliti)
istrinya yang dahulu.
Seorang
pimpinan mungkin saja melakukan beberapa ‘pembunuhan’ sehingga anak
buah yang dulu baik dan mampu bekerja sesuai standar sekarang menjadi
seorang yang lain, seorang pemberontak, trouble maker, biang kerok, dan lainnya. Tanpa sadar setiap kali memberikan feedback
kepada anak buah cara yang ditempuhnya kurang bisa diterima oleh si
anak buah sehingga menimbulkan sakit hati, resistensi, yang berujung
pada perubahan personaliti. Surat warning yang diberikan secara
keliru, makian, nasihat yang berlebihan dan kurang proporsional pada
akhirnya ‘membunuh’ (personaliti) anak buah dan merubahnya menjadi sosok
yang justru dibenci oleh sang atasan.
Penjelasan kedua adalah dengan mengacu pada penelitian oleh Alan Deutschman yang diulas dalam bukunya Change or Die.
Seberapa sering Anda mendengar retorika ‘change or die’
yang memang terdengar keren? Apakah retorika itu berhasil? Kalau ukuran
berhasil adalah gegap gempita yang ditimbulkan setelah seorang pemimpin
meneriakkan “change or die” jawabnaya adalah: berhasil. Kalau
ukurannya adalah perubahan yang terjadi setelah retorika itu, pada
kebanyakan kasus dan sebagian besar perusahaan atau bahkan korporasi
yang ada saat ini, jawabannya adalah nihil alias tidak berhasil. Kenapa
retorika yang demikian dahsyat kebanyakan gagal?
Dalam buku Change or Die Alan Deutschman menemukan bahwa 90% penderita sakit jantung yang sudah mengalami operasi bypass
tidak mau merubah pola hidupnya bahkan setelah dokter menyatakan bahwa
pilihan dia adalah berubah atau mati. 90% masih tetap mengkonsumsi
makanan berlemak dan kolesterol tinggi, masih merokok, dan masih enggan
berolah raga. Bahkan 90% mulai cuek terhadap obat yang diberikan dokter
beberapa saat setelah sakit yang mereka rasakan mulai hilang. 9 dari 10
pasien jantung itu tetap menjalani pola hidup yang sama padahal mereka
telah mendengar penjelasan tentang fakta-fakta apa saja yang bisa
ditimbulkan oleh makanan berlemak, rokok, dan kurang olah raga. Padahal
mereka juga telah telah ditakut-takuti apabila mereka tetap seperti itu
malaikat maut akan segera menjemput. Padahal mereka sudah sering dipaksa
untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat oleh keluarga mereka.
Mengapa mereka belum berubah?
Karena memberikan fakta (fact), menakut-nakuti (fear), dan memaksa (force)
alias 3F yang dikenal oleh gaya manajemen lama memang sebenarnya tidak
pernah efektif. Kalau 3F efektif itu hanya sebatas kulit, sebatas obedience
atau kepatuhan kosong. 3F efektif manakala orang diawasi, bos harus
selalu melotot selama jam kerja, polisi harus selalu waspada 24 jam di
jalan, orang tua harus selalu menguntit anaknya, dan lain sebagainya.
Intinya perubahan melalui 3F tidak kekal. Ini yang juga jarang diketahui
oleh para trainer sekalipun.
3F
berasal dari budaya yang mendewakan kognitif, budaya yang mendewakan
angka-angka (jadi ingat anak-anak kita di sekolah…). Kebanyakan pemimpin
merasa bahwa semua hal harus logis dan rasional. Hampir semua pemimpin
berpendapat bahwa segala sesuatu yang logis dan rasional pasti berjalan
dengan baik. Sementara kebanyakan pemimpin lupa bahwa sebenarnya uang
yang dihasilkan oleh mereka di dapat dari kesetiaan konsumen atau
pelanggan. Sementara kesetiaan konsumen tersebut sering kali merupakan
hal yang non-rasional atau non logis. Kemudian produk atau jasa yang
dinikmati oleh para pelanggan itu dihasilkan oleh manusia, sementara
produktifitas dan efektifitas manusia bukan dipengaruhi oleh keadaan
rasional atau logis tetapi lebih dipengaruhi oleh keadaan emosionalnya.
Penyajian
informasi dan fakta serta menambahkan kekuatan dosisnya dengan ancaman
plus paksaan pada kenyataannya tidak efektif. Itulah sebabnya banyak
perusahaan yang sampai saat ini menjalankan banyak program dengan hasil
yang senantiasa sama, bahkan cenderung membuat karyawan mereka
berkomentar pesimis, “Ada apa lagi sekarang?” Perubahan hanya
bisa dimungkinkan bila kita dengan tulus menawarkan hubungan emosional
yang membuat orang lain merasa nyaman dengan diri mereka sekaligus
nyaman dengan hubungan mereka bersama kita sehingga mereka melihat
adanya harapan (hope).
Bukan
suatu rencana atau strategi yang lebih logis dan rasional yang
dibutuhkan untuk suatu perubahan. Seperti kata Alan Deutschman, “Apa
yang kita perlukan untuk berubah adalah seseorang yang bisa memberi
kita kepercayaan dan harapan bahwa kita bisa berubah. Ini seperti
keyakinan yang kuat bahwa kita bisa berubah. Itu dimungkinkan dengan
adanya hubungan yang lebih tulus dan inspirasi yang terus menerus dari
mereka yang dengan ikhlas mempercayai kita. Ini adalah sesuatu yang
dikomunikasikan pada tingkat emosional.” Jelasnya, kunci dari perubahan adalah adanya hubungan yang lebih tulus dan membuat orang lain merasa nyaman serta aman.
Alan
Deutschman membuat formulasi 3R untuk perubahan yang dimulai dengan
hubungan yang lebih tulus dan membuat orang lain merasa nyaman serta
aman ini. 3R itu adalah relate (berhubungan), repeat (mengulangi), dan reframe (membingkai
ulang). Artinya untuk berubah harus dimulai dengan hubungan yang tulus
tadi. Hubungan yang tulus itu harus terus menerus berulang sehingga
orang bisa mempunyai bingkai baru dalam benaknya bahwa, “Ya. Saya bisa berubah.”
Secara
praktis, kembali kepada konsep kemanusiaan (H.U.M.A.N Technology),
ketika seseorang melakukan kesalahan maka kita harus menerima itu
sebagai hal yang manusiawi. Bila kita ingin orang tersebut berubah yang
harus kita tawarkan adalah, sekali lagi, hubungan yang lebih tulus dan
membuat orang lain merasa nyaman serta aman. Mari kita ambil contoh
kasus suami istri di atas.
Ketika
sang istri semisal membuatkan sang suami segelas kopi dan menurut si
suami racikan tersebut tidak pas maka yang bisa dilakukuan suami pertama
kali adalah, “Terima kasih kopinya ya.” Berterima kasih atas usaha sang istri dengan tulus. Kemudian ketika situasi memungkinkan bisa diikuti dengan, “Ma, papa ini jagoan bikin kopi. Papa yakin kalau resep ini papa bagi ke mama pasti mama bisa membuat racikan kopi juara.”
Bila itu sudah dilakukan dan si suami menyukai hasilnya, hukumnya wajib
bagi si suami untuk memuji si istri (bukan memuji resep rahasianya) dan
bisa ditingkatkan dosisnya dengan memuji si istri di depan orang tua,
mertua, atau teman yang lain. Ingat relate, repeat dan reframe.
Kembali Pada Kemanusiaan, H.U.M.A.N TechnologyTM
Entah
berapa banyak anak buah yang sudah kita ‘bunuh’ sehingga bangkit
menjadi zombie yang keras kepala, sulit diatur, pemalas, dan lainnya,
entah kapan kita ‘membunuh’ anak kita yang dulu adalah anak yang
terbuka, jujur, dan bekerja sama, tidak tahu bagaimana kita mulai
‘membunuh’ pasangan kita sehingga sekarang mereka menjelma menjadi orang
yang kurang kita kenali serta selalu kita keluhkan. Tidak terlalu
penting mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Saat ini
sebaiknya kita berkonsentrasi untuk menghidupkan kembali anak buah kita,
anak kita, atau pasangan kita menjadi sosok yang kita damba. Itu semua
bisa kita lakukan dengan kembali pada kemanusiaan kita.
H.U.M.A.N TechnologyTM
dilahirkan berlandaskan pada kepercayaan bahwa manusia telah dibekali
perangkat-perangkat hebat untuk mampu mewujudkan dunia yang ideal.
Perangkat-perangkat tesebut adalah rasa (feelings), pikiran (thoughts) dan tindakan (actions). Ketiga hal tersebut harus senantiasa selaraskan di dalam setiap upaya kita.
Dalam
kaitannya dengan mencoba merubah orang dengan cara-cara ‘biasa’ seperti
menghukum orang dengan kata-kata kita, melepaskan amarah kita, dan lain
sebagainya, itu semua pasti bertentangan dengan kemanusiaan bila kita
ukur dengan rasa, pikiran, dan tindakan tadi. Sebagai contoh setelah
kita menumpahkan amarah kita atau berkata-kata dengan pernyataan yang
menyakitkan hati pada naka buah, anak, atau istri kita, pasti itu semua
meninggalkan perasaan yang tidak enak di dalam dada kita. Itu adalah
pertanda ada yang kurang tepat dari tindakan kita. Kemudian kalau kita
benar-benar mau menganalisa dengan pikiran kita apakah tindakan kita
tadi akan menghasilkan suatu perubahan yang esensial dan signifikan,
pasti jawabannya adalah tidak. Nah, segala sesuatu yang tidak manusiawi
(baca: tidak enak di perasaan, analisa positif tidak mendukung, dan jauh
dari standar tindakan positif) pasti tidak akan berhasil bila
diterapkan kepada manusia.
Cara 3R, relate, repeat, dan reframe yang diusung oleh Alan Deutschman terbukti manusiawi. Banyak hasil positif yang telah didapatkan dari cara ini (baca Change or Die)
maka cara semacam inilah yang seharusnya mulai sekarang kita pilih di
dalam setiap upaya kita untuk menuju pada suatu keadaan yang lebih baik,
di dalam bisnis kita, di lingkungan sosial kita, atau di dalam rumah
tangga kita. Penulis tidak akan berkata proses 3R akan mudah. Yang jelas
cara ini sangat efektif dan penulis yakin dengan kemanusiaan yang kita
punyai, kita pasti bisa mempraktekkan 3R ini.
Mari
kita hentikan ‘pembunuhan-pembunuhan’ yang selama ini kita lakukan.
Mari kita mulai lagi perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dengan
cara yang lebih manusiawi. Let’s relate, repeat, and reframe.
disadur dari tulisan
thehumantechnology.com